<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690</id><updated>2011-11-27T20:43:17.924-08:00</updated><category term='Pemberitahuan'/><category term='Buku'/><category term='Artikel Ringan'/><category term='Dokumentasi Kegiatan'/><category term='Bahan Presentasi'/><category term='Makalah'/><category term='Presentasi'/><title type='text'>MENULIS BUKU ILMIAH</title><subtitle type='html'>Menuju Insan Akademis yang Profesional</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-1748212269814490348</id><published>2010-05-04T17:56:00.000-07:00</published><updated>2010-05-04T17:56:25.410-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Penulis Artikel, Buku &amp; Cerita, Mudahkah?</title><content type='html'>Oleh Onno W. Purbo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarang barangkali merupakan pelajaran yang paling membosankan pada masa SD. Pernahkan kita berfikir bahwa pekerjaan mengarang, menulis merupakan pekerjaan yang sebetulnya paling menyenangkan di dunia ini? Bayangkan, berbeda dengan pekerjaan lainnya yang harus datang ke kantor tepat waktu; pulang kadang malam hari; kekurangan waktu untuk keluarga karena harus pergi bekerja; persaingan yang ketat &amp; membuat kita stress sukur-sukur tidak jantungan &amp; mati karena terserang stroke. Dalam dunia menulis, mengarang ternyata kejadian-kejadian di atas tidak terjadi. Bahkan yang membuat dunia ini menjadi lebih ceria lagi adalah tidak adanya (sangat kurang) persaingan dalam pekerjaan sebagai penulis. Betul di Indonesia jarang sekali orang yang mendedikasikan hidup-nya untuk menulis saja, artinya persaingan sebagai penulis amat sangat tidak seru &amp; hampir tidak perlu bersaing untuk menjadi penulis lepas. Bisa di maklumi karena bangsa Indonesia bukan bangsa yang suka menulis, mereka lebih suka berbicara, berdebat &amp; berteriak bahkan mungkin berkelahi – bisa kita lihat contohnya pada kelakuan para elit politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asiknya menulis, sebagian besar waktu kerja anda dapat dilakukan di rumah, atau jika anda memiliki laptop dapat dilakukan dimana saja. Artinya, waktu untuk keluarga praktis menjadi lebih banyak, hampir setiap hari jika anda menghendaki dapat hidup bersama keluarga anda di rumah. Hidupkah anda dari menulis saja? Insya Allah anda akan hidup – bayangkan satu tulisan kadang di hargai Rp. 250.000 s/d Rp. 1 juta untuk panjang 6000-15000 huruf yang dapat dilakukan dalam waktu sekitar 2 jam saja. Rasanya membutuhkan waktu kerja satu bulan bagi sarjana yang baru lulus untuk memperoleh uang sebanyak itu, belum lagi biaya transportasi yang demikian tinggi. Jika anda sanggup menulis buku agak lumayan hasilnya sekitar Rp. 3-4 juta / buku (untuk 10000 eksemplar). Yang paling mengasyikan sebagai penulis adalah undangan memberikan ceramah, sekali ceramah 1-2 jam bukan mustahil akan memperoleh antara Rp. 250.000 s/d Rp. 6 juta / ceramah tergantung penyelenggaranya. Kalau saya perhatikan semua ini sangat tergantung pada tingkat produktifitas anda dalam menulis &amp; menyebarkan ilmu pengetahuan. Pada sisi ekstrim, semakin banyak pengetahuan anda menyebar ke masyarakat melalui berbagai media (bahkan yang gratis sekalipun seperti melalui Web), maka Insya Allah rizki akan datang kepada anda berlipat ganda, sesuai janji Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini, kebetulan sekali dunia teknologi informasi tampaknya sedang sangat booming, kebutuhan akan informasi tentang teknologi informasi menjadi demikian besar. Banyak sekali majalah, koran, surat kabar, tabloid yang berkaitan dengan Teknologi Informasi, mulai dari Koran Tempo, Telset, Infokomputer, NeoTek, Chip, Majalah Internet, infolinux, dotcom, dotnet, majalah teknologi, KOMPAS, Republika, Bisnis Indonesia, Jakarta Post banyak sekali. Di samping itu, ada beberapa penerbit buku yang mempunyai fokus ke Teknologi Informasi, seperti Elexmedia Komputindo, Penerbit ITB, Gramedia. Belum lagi berbagai media online seperti detik.com, astaga.com dll yang akan dengan senang hati menerima penerbitan tulisan / artikel anda. Jelas kebutuhan akan berbagai tulisan khususnya bidang teknologi informasi menjadi sangat banyak, dengan jumlah penulis yang demikian sedikit – betapa nikmatnya hidup hampir tanpa saingan &amp; rizki yang melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang perlu kita lakukan dalam memulai karir sebagai penulis ini? Sebetulnya tidak banyak, sudah tentu bekal pengetahuan yang cukup tentang bidang yang akan kita tulis akan sangat membantu. Khususnya untuk dunia Teknologi Informasi, sebetulnya anda cukup beruntung karena ilmu di teknologi informasi berkembang terus dengan sangat pesat sehingga dari bidang apapun anda dapat menulis tentang berbagai aspek teknologi informasi. Kunci utamanya adalah kemauan untuk membaca berbagai tulisan, artikel tentang teknologi informasi yang sebetulnya banyak sekali &amp; dapat di ambil secara gratis di Internet, seperti http://www.linuxdoc.org, http://pandu.dhs.org, http://ecommerce.internet.com, http://www.infolinux.web.id dsb. Jika kita perhatikan di berbagai tulisan yang ada, sebetulnya latar belakang ekonomi, sosial, hukum dsb. juga dibutuhkan di dunia teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya bergabung &amp; berdiskusi dengan rekan penulis teknologi informasi lainnya juga akan sangat membantu. Salah satu pangkalan bagi penulis teknologi informasi Indonesia adalah penulis-ti@yahoogroups.com yang saat ini beranggotakan hampir seratusan penulis TI &amp; sebagian sudah menulis beberapa buku tentang TI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemula yang ingin mencoba mendalami dunia tulis menulis, alangkah baiknya jika dapat dilakukan sejak dini bahkan kalau mungkin sejak SD. Ada beberapa situs di Internet yang akan dapat membantu kita sebagai penulis, saya coba fokuskan justru ke situs-situs yang memberikan inspirasi bagi anak-anak dalam mencoba menulis sejak dini. Bagi yang ingin serius sebagai penulis, ada baiknya search di http://www.google.com dengan menggunakan keyword “technical writer” atau “technical writing”. Memang sebagian besar informasi masih berbahasa Inggris, tapi paling tidak akan memberikan inspirasi proses menjadi seorang penulis yang baik. Situs tersebut antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Aaron Shepard's Young Author Page http://www.aaronshep.com/youngauthor/ - situs untuk penulis anak-anak yang di kelola oleh Aaron Shepard.&lt;br /&gt;- Arthur: Letter Writer Helperhttp://www.pbs.org/wgbh/arthur/arthur/postcards/letterwriter_helper.html - tempat Arthur memberikan pelajaran bagaimana menulis surat yang baik &amp; “cool” dan beberapa fakta tentang surat menyurat &amp; e-mail.&lt;br /&gt;- Buddy's Bearded Collie Literacy Notebook http://www.skylinc.net/~scarfone/buddy.htm Buddy, a Bearded Collie, menolong anak-anak untuk menulis &amp; membaca. Untuk mendapat berbagai ide untuk menulis, bahkan memasukan ceita sendiri.&lt;br /&gt;- Stories http://www.candlelightstories.com/ - tempat banyak e-book di simpan. Beberapa di antara di tulis oleh anak-anak. Jika anda masuk ke writing area, anda akan mengetahui bagaimana cara mempublikasi tulisan anda.&lt;br /&gt;- CBC 4 Kids: Words http://www.cbc4kids.ca/general/words/default.html - anda dapat mengikuti perlombaan menulis, berpartisipasi dalam cerita yang tak pernah berhenti (never ending story), mencek buku &amp; pengarang yang baik, mendengarkan drama radio dll.&lt;br /&gt;- Children's Book Guy http://members.home.net/komalley/ - menerangkan bagaimana cara menulis &amp; mempublikasikan buku.&lt;br /&gt;- Elements of Style http://www.bartleby.com/141/ -  tata bahasa, penggunaan kata, bentuk &amp; ekspresi dalam bahasa Inggris tentunya.&lt;br /&gt;- HP Student Center http://www.hpstudentcenter.com/ - berbagai resensi buku, proyek, game, aktifitas, dan workshop tentang menulis untuk anak-anak di tingkat SMP.&lt;br /&gt;- Incredible Story Studio http://www.storystudio.com/ - Untuk anak-anak muda (10-14 tahun) yang ingin menulis cerita untuk televisi.&lt;br /&gt;- Online Literacy http://www.nexus.edu.au/teachstud/onlit/index.html - berbagai tip yang “cool” untuk berbicara, mendengarkan, menulis &amp; membaca di kelas.&lt;br /&gt;- Page by Page: Creating a Children's Book http://www.nlc-bnc.ca/pagebypage/ - Tour step-by-step proses pembuatan buku menggunakan buku dari Tim Wynne-Jones yang berjudul Zoom Upstream sebagai contoh.&lt;br /&gt;- The Write Site http://www.writesite.org/ - untuk mengeksplorasi dunia jurnalistik, termasuk informasi bagaimana cara melakukan penelitian dan membangun gaya anda sendiri.&lt;br /&gt;- Young Writers' Clubhouse http://www.realkids.com/club.shtml - untuk memperoleh ide &amp; saran untuk tulisan anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-1748212269814490348?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/1748212269814490348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=1748212269814490348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/1748212269814490348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/1748212269814490348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2010/05/menjadi-penulis-artikel-buku-cerita.html' title='Menjadi Penulis Artikel, Buku &amp; Cerita, Mudahkah?'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-923637522803551693</id><published>2009-10-20T09:10:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T09:17:15.000-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Ringan'/><title type='text'>Syarat Penyusunan Paragraf</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Oleh Masnur Muslich&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf yang baik menuntut adanya prisip-prinsip (1) kesatuan, (2) kepaduan, dan (3) pengembangan. Kesatuan menunjukkan pengertian bahwa kalimat-kalimat yang ada dalam paragraf mendukung satu tema/pikiran. Kepaduan mengacu kepada hubungan yang harmonis antarkalimat dalam paragraf, sedangkan pengembangan mengacu kepada teknik penyusunan gagasan-gagasan dalam paragraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Kesatuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang kesatuan dalam paragraf menyangkut pembicaraan tentang gagasan utama dan gagasan tambahan. Keduanya menampak pada kalimat utama dan kalimat penjelas. Posisi kalimat utama dan dan kalimat penjelas tidak selalu tetap. Kalimat utama dapat mengambil posisi di awal paragraf, di akhir paragraf, di awal dan akhir paragraf sekaligus, atau di seluruh kalimat dalam paragraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1)Paragraf Deduktif&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Sebagai telah penulis katakan di depan, sebuah karangan argumentasi dikembangkan dalam dua kemungkinan cara, yakni cara induktif dan cara deduktif. Dalam cara induktif, pengarang memulai dari suatu kenyataan ke kenyataan lainnya dan mengakhirnya dengan suatu generalisasi. Sebaliknya, cara deduktif akan bermula dengan satu generalisasi, yaitu satu anggapan umum, lalu mencari bukti-bukti dan kenyataan-kenyataan untuk membenarkannya. Dalam penulisan dua cara ini harus dilakukan dengan seimbang dan saling mengisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2) Paragraf Induktif&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Agar komunikasi terjadi dengan baik, kedua belah pihak memerlukan bahasa yang bisa dipakai dan dipahami bersama. Wujud bahasa yang utama adalah bunyi. Bunyi-bunyi itu dapat disebut bunyi bahasa jika dihasilkan oleh alat bicara manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bunyi bahasa itu sebagai alat pelaksana bahasa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3) Paragraf Repetitif&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Fonemisasi merupakan prosedur atau cara menemukan fonem-fonem yang ada dalam suatu bahasa. Karena bunyi bahasa banyak sekali jumlahnya, fonemisasi tidak berusaha untuk mencatat semua bunyi yang ditemukan. Tentunya, fonemisasi merupakan prosedur menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan arti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;4) Paragraf Deskriptif&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Pintu cendela dan rumah tetap tertutup. Cahaya lampu tiada tampak. Kesempatan beristirahat setelah sesiang tadi bekerja keras di sawah, dipergunakan sebaik-baiknya oleh penghuninya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Kepaduan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kepaduan sebuah paragraf dapat didukung oleh beberapa cara: (1) pengulangan kata-kata kunci, (2) pemakaian kata ganti tertentu, dan (3) pemakaian kata-kata transisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1) Pemakaian Kata Kunci&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Karena bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara kita itu banyak ragamnya, bunyi-bunyi itu dikelompokkan ke dalam unit-unit yang disebut fonem. Fonem inilah yang dijadikan objek penelitian fonemik. Jadi, tidak seluruh bahasa yang bisa dihasilkan oleh alat bicara dipelajari oleh fonemik. Bunyi-bunyi bahasa yang fungsionallah yang menjadi bagian fonemik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2) Pemakainan Kata Ganti Tertentu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Dialog utara selatan tidak dapat dipisahkan dari krisis ekonomi dunia dan juga tidak dapat ditunda untuk memberikan perhatian kepadanya sampai krisis tersebut dipecahkan dan penyembuhan sudah berjalan. Di dalam lampiran, kami membuat usulan untuk menyuntikkan tujuan baru di dalam dialog itu. Inilah suatu urgenisasi yang baru diperoleh. Situasi menyedihkan akan dihadapi negara-negara dan interpedensi yang dramatik antara Utara dan Selatan di dalam bidang-bidang seperti perdagangan dan keuangan membuatnya menjadi jelas. Akan tetapi, resensi ekonomi global dan kemacetan dialog Utara-Selatan saling memperkuat satu sama lain, dan dialog menjadi mati dan tidak produktif. Bagaimana lingkaran setan ini bisa dipecahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3) Pemakaian Kata-Kata Transisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Agar perpindahan dari kalimat satu ke kalimat berikutnya mengalir dengan baik, tidak jarang digunakan kata sambung atau konjungsi. Secara umum kata sambung dibedakan ke dalam beberapa kategori:(1) kata sambung intrakalimat, (2) kata sambung antarkalimat, (3) kata sambung antarparagraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang termasuk kata sambung jenis ini adalah &lt;em&gt;dan, atau, yang, tetapi, sesudah, setelah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, sampai, jika, kalau, asal(kan), bila, manakala, andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya, agar, supaya, biar, biarpun, meski(pun), sekalipun, walau(pun), sungguhpun, kendati(pun), seolah-olah, seakan-akan, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, sebab, oleh karena, (se)hingga, sampai, maka, bahwa, dengan, baik ... maupun ..., demikian ... sehingga, apakah ... atau ...., entah ..., jangankan ..., .... pun ....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sambung antarkalimat menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Karena kata sambung ini selalu mengawali kalimat, penulisannya selalu diawali dengan huruf kapital. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah &lt;em&gt;biarpun demikian, biarpun begitu, sekalipun, begitu, sungguhpun demikian, meskipun begitu, meskipun demikian, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya, tambahan pula, lagi pula, selain itu, sebaliknya, sesungguhpun, malah (an), bahkan, akan tetapi, namun, kecuali itu, dengan demikian, oleh karena itu, oleh sebab itu,&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;sebelum itu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sambung antarparagraf menghubungkan satu paragraf dengan paragraf yang lain. Kata sambung ini mengawali sebuah paragraf. Hubungan dengan paragraf sebelumnya berdasarkan makna yan terkandung dalam paragraf sebelumnya. Yang termasuk kata sambung jenis ini adalah &lt;em&gt;dalam hubungan ini, dalam pada itu, berbeda dengan itu, adapun,sebagai perbandingan,&lt;/em&gt; dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini, jelaslah bahwa perencanaan sangat erat hubungannya dengan filsafat yang dianut oleh suatu negara, terutama perencanaan di bidang sosial. Hal ini berlaku pula untuk perencanaan komunikasi. Usaha utama dalam perencanaan komunikasi adalah mengelola proses penyesuaian diri dan berusaha memenuhi kebutuhan (komunikasi) dari sebanyak mungkin pihak, yang seringkali bertentangan dalam sistem dan dalam bidang kepentingannya. Sebagai akibatnya kontrol dan pengorganisasiannya akan meningkat. Hal ini akan memudahkan peramalan tingkah laku sosial, tetapi merupakan bahaya  untuk kebebasan mengeluarkan pendapat. Dengan demikian, perencanaan dalam bidang komunikasi perlu diadakan secara terbatas pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Pengembangan Paragraf&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;a. Urutan Waktu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Pada suatu ketika Dewa Matahari terhina oleh perbuatan salah satu saudaranya, lalu mengasingkan diri ke sebuah gua membiarkan bumi dalam keadaan gelap gulita. Dewa itu mengirim cucunya, Niningi-No-Mikoto, untuk menjalankan pemerintahan di bumi, mendarat di pulau. Ia membawa serta permata, sebilah pedang dan sebuah cermin dari neneknya. Niningi-No-Mikoto mempunyai cucu dan itulah Jimu Tenno, Kaisar pertama yang memerintah Jepang &lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;b. Urutan Ruang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Bulan bertengger di atas rumah ini. Sinarnya yang lembut menyentuh dedaunan memahatkan bayang-bayang semacam ukiran di tanah yang dingin. Penghuni rumah itu telah lelap. Begitu pula keadaan di rumah itu. Semua pintu dan jendela terkunci rapat, serapat mata penghuni yang terkatup karena nyenyaknya. Di luar pepohonan mandi cahaya, bunga kaca piring lebih putih kelihatannya, sedang daun-daun Beringin Jepang yang keperak-perakkan bergerak pelan. Rumah itu manis sekali kelihatannya, semanis Sinta Sasanti serta adik-adiknya, anak-anak keluarga Rosena &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;c. Contoh-Contoh&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Fonem vokal tunggal /i/, yang tergolong vokal depan, tinggi, dan terentang, memiliki distribusi lengkap. Dikatakan demikian karena fonem ini dapat berada pada posisi awal kata (inisial), tengah kata (medial), dan akhir kata (final). Pada inisial fonem /i/ terdapat pada ibu, insan, dan ikan, misalnya. Contoh pada medial adalah sibuk, bisa, dan kilah, sedangkan pada posisi final dapat diambil contoh-contoh sapi, kami, dan mati &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;d. Perbandingan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Dalam tatabahasa tradisional dikenal bentuk kalimat aktif dan pasif. Pada kalimat aktif, subjek kalimat melakukan suatu tindakan/aktivitas. Sebaliknya, pada kalimat pasif, subjek kalimatnya dikenai/menderita sesuatu. Predikat pada kalimat aktif pada umumnya berawalan me- atau ber-, sedangkan pada kalimat pasif berawalan di- atau ter- &lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;e. Analogi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Anak adalah bunga hidup. Anak adalah keharum-haruman rumah tangga. Anak adalah pelerai demam. Kepada anak bergantung pengharapan keluarga di kemudian hari. Dialah ujung cita-cita dalam segenap kepayahan. Misalnya terjadi perselisihan dalam rumah, namun perselisihan itu bisa didamaikan apabila suami istri sama-sama melihat anaknya yang masih suci itu, yang tidak boleh turut menjadi korban karena pertengkaran dan perselisihan ayah bundanya. Sebab itu, Nabi SAW sangat besar pengasihnya kepada anak-anak. Sampai punggungnya diperkuda-kuda oleh anak-anak  sedang ia sembayang. Sampai anak-anak dipangkunya sedang ia mengerjakan ibadah itu. Apabila hendak sujud diletakkannya itu di sampingnya dan bila ia hendak tegak dipungutnya balik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;f. Hubungan Sebab Akibat&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Krisis Meksiko pada musim panas tahun1982 cukup memberikan bukti besar tentang fakta adanya saling ketergantungan. Kesulitan yang duhadapi ekonomi Meksiko menampilkan ancaman yang sungguh-sungguh pada bank-bank komersial dan kepada investor swasta. Konsekuensi politik dan ekonomi terutama bagi Amerika Serikat bisa mengerikan. Pada akhir tahun 1981 bank-bank Amerika mengambil bagian pinjaman terbesar di dalam bank ke Meksiko $21 milyar dari jumlah keseluruhan sebanyak $57 milyar yang menjadi hutang Meksiko kepada bank-bank asing. Konsekuensi potensial, tunggakan dari Meksiko atau kegagalan sebuah bank besar Amerika Serikat, benar-benar mengganggu untuk direnungkan. Pemotongan impor di  Meksiko memukul ekspor dari Amerika Serikat dan banyak negara industri yang lain. Kegagalan ekonomi di Meksiko bisa menyebabkan tekanan besar-besaran arus migrasi di Texas dan California. Tidaklah mengherankan, Amerika  Serikat memainkan peranan yang besar dalam memelopori aksi segera yang diambil oleh Bank for Intenational Settlements, International Monetary Fund dan bank-bank sentral negara-negara barat yang besar, dan mengambil langkah-langkah tambahannya sendiri, termasuk membelikan minyak Meksiko dengan sistem ijon secara besar-besaran buat cadangan strategis Amerika Serikat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;g. Proses&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Jika kita pakai simbol S untuk subjek, P untuk predikat, dan O untuk objek, maka kaidah umum untuk membuat kalimat pasif dari kalimat aktif adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Pertahankan urutan S P O, tetapi tukarkanlah pengisi S dan O.&lt;br /&gt;2. Gantilah prefiks meng- dengan di- pada P.&lt;br /&gt;3. Tambahkanlah kata oleh di muka O, terutama jika O terpisahkan oleh kata lain dari P &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;h. Umum Khusus&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Pertunjukkan teater yang mengasyikkan adalah pertunjukkan yang memiliki ciri komunikatif antara pekerja teater dengan penontonnya. Keakraban tersebut terjalin pada komunikasi rohani, yang menimbulkan harmoni antara pelaku dan penontonnya. Pertunjukkan semacam ini sering terjadi di lingkungan teater traditional, yang selalu sejalan dengan perkembangan masyrakatnya. Para penonton pun tidak terikat tempat dan waktu. Di dalam pementasan teater tradisional, adegan-adegan yang lucu dapat diulang-ulang oleh pelakunya sehingga penonton merasa puas (terhibur). Demikian pula pengulangan adegan tari ataupun nyanyian yang digemari oleh publiknya. Isi ceritanya dapat berangkat dari kehidupan sehari-hari, dari legenda, cerita rakyat, roman sejarah, atau cerita asing yang diadaptasikan dengan masyarakatnya. Dialog-dialog dalam teater rakyat bersifat spontan didialogkan oleh para pelakunya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;i. Definisi Luas&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Masalah bahasa di Indonesia adalah masalah nasional yang memerlukan pengorbanan yang berencana, terarah, dan teliti. Masalah bahasa ini adalah keseluruhan masalah yang ditimbulkan oleh kenyatan bahwa jumlah bahasa yang terdapat dan dipakai di Indonesia besar, bahwa bahasa-bahasa ini merupakan bagian daripada dan didukung oleh kebudayaan yang hidup, dan bahwa bahasa-bahasa ini memainkan peranan yang berbeda di dalam hubungan dengan kepentingan nasional. Di samping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi pemerintah, terdapat bahasa-bahasa daerah yang jumlahnya belum diketahui dengan pasti dan bahasa-bahasa asing yang dipakai sebagai bahasa perhubungan intenasional.&lt;br /&gt;Sebagai masalah nasional, keseluruhan masalah bahasa di Indonesia merupakan satu jaringan masalah yang dijalin oleh (1) masalah bahasa nasional, (2) masalah bahasa daerah, dan (3) masalah bahasa asing. Di dalam jaringan ini sebagai akibat pemakaian bahasa-bahasa ini di dalam masyarakat yang sama, yaitu masyarakat Indonesia, masalah bahasa nasional, masalah bahasa-bahasa daerah, dan masalah bahasa asing itu memiliki hubungan timbal balik. Pengolahan bahasa nasional tidak dapat dipisahkan dari pengolongan bahasa-bahasa daerah, demikian pula sebaliknya. Penggolongan masalah bahasa nasional dan bahasa-bahasa daerah tidak pula dapat dilepaskan dari masalah pemakaian dan pemanfaatan bahasa-bahasa asing tertentu di Indonesia. Oleh karena itu, pengolahan keseluruhan masalah bahasa ini memerlukan adanya satu kebijaksanaan nasional yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pengolahan masalah itu benar-benar berencana, terarah, dan teliti. Kebijaksanaan nasional yang berisi perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengolahan keseluruhan masalah bahasa itu disebut politik bahasa nasional&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-923637522803551693?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/923637522803551693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=923637522803551693' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/923637522803551693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/923637522803551693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2009/10/syarat-penyusunan-paragraf.html' title='Syarat Penyusunan Paragraf'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-4331335590966474466</id><published>2009-10-20T08:46:00.001-07:00</published><updated>2009-10-20T09:09:46.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Ringan'/><title type='text'>Kalimat yang Efektif</title><content type='html'>&lt;strong&gt;oleh Masnur Muslich&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kalimat yang efektif memiliki kemampuan atau tenaga untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran, pendengar atau pembaca identik dengan apa yang dipikirkan pembicara atau penulis. Di samping itu, kalimat yang efektif selalu tetap berusaha agar gagasan pokok selalu mendapat tekanan atau penonjolan dalam pikiran pembaca atau pendengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kesatuan Gagasan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;   Setiap kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, mengandung satu ide pokok. Kesatuan gagasan diwakili oleh Subjek, predikat dan objek. Kesatuan yang diwakili oleh subjek, predikat dan objek itu dapat berbentuk kesatuan tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung pertentangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang  jelas kesatuan gagasannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Kesatuan Tunggal&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;• Kita bisa merasakan dalam kehidupan sehari hari, betapa emosi itu sering kali merupakan tenaga pendorong yang amat kuat dalam tindak kehidupan kita.&lt;br /&gt;• Pimpinan perguruan tinggi sadar bahwa pelayanan kurikuler ini akan berhasil baik bila penyempurnaan sistem perkuliahan dan tenaga pengajar disertai dengan penyempurnaan perpustakaan, laboratorium, peralatan, gedung, dan administrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Kesatuan Gabungan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;• Tugas pengolah data memerlukan keahlian tersendiri terutama dalam merakit data dan mempunyai pandangan yang luas terhadap datanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Kesatuan Pilihan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;• Penelitian dapat dilakukan secara kelompok atau sendirian dengan berbagai pertimbangan dan keperluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Kesatuan yang Mengandung Pertentangan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;• Dalam penelitian secara teknis, personal kelompok penerima data adalah petugas di belakang meja tetapi dalam praktik kadang-kadang dijumpai sebagai pengolah data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kesatuan gagasan biasanya menjadi tidak jelas karena kedudukan subjek atau predikat tidak jelas. Terutama karena salah menggunakan kata-kata depan. Kesalah lain terjadi karena kalimatnya terlalu panjang sehingga penulis atau pembicara sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ingin di tulis atau dikatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang tidak jelas kesatuan gagasannya&lt;br /&gt;1. Di daerah-daerah sudah mempunyai lembaga bahasa &lt;br /&gt;2. Kebutuhan akan makan oleh manusia tidak dapat menunggu sampai hari esok &lt;br /&gt;3. Terhadap orang yang lebih tinggi umurnya dan atau kedudukannya berbeda caranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Koherensi Yang Baik dan Kompak&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;   Yang dimaksud dengan koherensi atau perpaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur kata yang membentuk kalimat itu. Kesalahan yang sering kali merusak koherensi adalah menempatkan kata depan atau kata penghubung yang tidak sesuai pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Contoh ( + ): &lt;br /&gt;- Ketua STIKIM tidak mengizinkan mahasiswanya mengikuti ujian di kampus kemarin Sabtu, karena belum melunasi SPP. &lt;br /&gt;Contoh ( - ):&lt;br /&gt;- Mahasiswa kemarin Sabtu di kampus Ketua STIKIM tidak mengizinkan mengikuti ujian karena belum melunasi SPP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Koherensi rusak karena salah menggunakan kata kata depan, kata penghubung, dan sebagainya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;1. Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa  menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang (tanpa bagi)&lt;br /&gt;2. sejak lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alam, atau kepada pihak lain karena merasa dirinya lebih kuat (tanpa kepada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola kesalahan semacam ini sering kali terjadi, terutama bila menghadapi bentuk-bentuk kalimat yang mirip.&lt;br /&gt;Contoh &lt;br /&gt;a. &lt;em&gt;Benar&lt;/em&gt;: membahayakan negara, berbahaya bagi Negara&lt;br /&gt;      &lt;em&gt;Salah&lt;/em&gt;: membahayakan bagi negara &lt;br /&gt;b. &lt;em&gt;Benar&lt;/em&gt;: membicarakan suatu masalah, berbicara tentang suatu masalah&lt;br /&gt;      &lt;em&gt;Salah&lt;/em&gt;: membicarakan tentang suatu&lt;br /&gt;c. &lt;em&gt;Benar&lt;/em&gt;: mengharapkan belas kasihan, berharap akan belas kasihan&lt;br /&gt;      &lt;em&gt;Salah&lt;/em&gt;: mengharapkan akan belas kasihan&lt;br /&gt;d. &lt;em&gt;Benar&lt;/em&gt;: menceritakan peristiwa itu, bercerita tentang peristiwa itu&lt;br /&gt;      &lt;em&gt;Salah&lt;/em&gt;: menceriterakan tentang peristiwa itu&lt;br /&gt;e. &lt;em&gt;Benar&lt;/em&gt;: saling membantu, bantu-membantu&lt;br /&gt;      &lt;em&gt;Salah&lt;/em&gt;: saling bantu-membantu&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Kesalahan karena pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakikatnya mengandung kontradiksi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;contoh:&lt;br /&gt;1.  Banyak para peninjau yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung itu merupakan Perang Dunia di Timur Tengah (atau banyak peninjau atau para peninjau; makna banyak dan para tidak tumpang tindih).&lt;br /&gt;2.  Sering kita membuat suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari (suatu kesalahan atau kesalahan-kesalahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penekanan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;   Inti pikiran yang terkandung dalam tiap kalimat (gagasan utama) haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Mengubah-ubah posisi dalam kalimat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Sebagai prinsip dapat dikatakan bahwa semua kata yang ditempatkan pada awal kalimat adalah kata yang dipentingkan, untuk mencapai efek yang diinginkan sebuah kalimat dapat dirubah-rubah strukturnya dengan menempatkan sebuah kata yang dipentingkan pada awal kalimat.&lt;br /&gt;Contoh: &lt;br /&gt;- Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakan lagi soal ini  &lt;br /&gt;Kalimat di atas menunjukkan bahwa kata yang dipentingkan adalah kami (berharap), di samping kami kita dapat memberi penekanan pada kata-kata lainnya: harap, pada kesempatan lain, kita, soal ini. Kata-kata tersebut dapat ditempatkan pada awal kalimat, dengan konsekuensi kalimat di atas bisa mengalami perubahan strukturnya asal isinya tidak berubah.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;- Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain&lt;br /&gt;- Pada Kesempatan lain kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini&lt;br /&gt;- Kita dapat membicarakan lagi soal ini pada kesempatan lain, demikian harapan kami&lt;br /&gt;- Soal ini dapat kita bicarakan pada kesempatan lain, demikian harapan kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Menggunakan repetisi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;(-) Harapan kita demikianlah dan demikian pula harapan setiap pejuang&lt;br /&gt;(+) Demikianlah harapan kita dan harapan setiap pejuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Pertentangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan dapat pula dipergunakan untuk menekan suatu gagasan. Kita bisa saja mengatakan secara langsung hal-hal berikut dengan konsekuensi bahwa tidak terdapat penekanan.&lt;br /&gt;- Anak itu rajin dan jujur. Ia menghendaki perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu&lt;br /&gt;Agar kata rajin dan jujur serta menghendaki perbaikan yang menyeluruh dapat lebih ditonjolkan, maka kedua gagasan itu ditempatkan dalam suatu posisi pertentangan, misalnya:&lt;br /&gt;- Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur. Ia tidak menghendaki perbaikan yang bersifat tambal sulam tetapi perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Partikel Penekan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel yang berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat. Partikel-partikel (imbuhan) yang dimaksud adalah: lah, pun, kah.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;- Saudaralah yang harus bertanggungjawab dalam soal itu&lt;br /&gt;- Kami pun turut dalam kegiatan itu&lt;br /&gt;- Bapaklah yang harus lebih dahulu memberi contoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Latihan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I. Tentukanlah jenis kesatuannya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Kemajuan manusia dalam segala bidang dibatasi oleh pengetahuan yang diperoleh dan digunakan secara efektif oleh masyarakat&lt;br /&gt;2. Ada juga yang berpendidikan SMP dan SMA, tetapi sedikit sekali yang memperoleh pendidikan kejuruan&lt;br /&gt;3. Sudah dirintis pencocokan waktu dan program, tetapi penjadwalan waktu amat sukar diatur&lt;br /&gt;4. Bencana yang menimpa wilayah itu harus segera diatasi, atau kita membiarkan penduduknya musnah total dari muka bumi ini&lt;br /&gt;5. Saya pikir masalah yang terpenting dalam penataan ini bukanlah soal kebutuhan masyarakat, melainkan alokasi dan tenaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;II. Perhatikanlah kalimat-kalimat di bawah ini, dengan saksama, kemudian tunjukkan di mana letak kesalahan atau kekurangannya, lalu perbaiki.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Di negara-negara itu bahaya–bahayanya penyakit tersebut masih dikhawatirkan akan selalu mengancam setiap waktu&lt;br /&gt;2. Tak lupa saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian bapak yang mana telah sudi membimbing kami dan memberikan kritik-kritik, bila ada kesalahan-kesalahan/kekurangan-kekurangan dalam karya saya ini, mohon dimaafkan&lt;br /&gt;3. Di dalam keluarga di mana dua orang manusia, dengan kuasa yang diterima dari Allah sendiri, mampu menciptakan seorang manusia baru&lt;br /&gt;4. Kegunaan dengan adanya gedung sekolah dalam menjalankan pendidikan, tentu saja di sini meliputi kegunaan dari sekolah-sekolah yang rendah tingkatannya sampai kepada sekolah tinggi&lt;br /&gt;5. Selain udara, matahari juga berguna bagi pembentukan Vitamin D dan pembentukan pada tulang&lt;br /&gt;6. Demi untuk kepentingan saudara sendiri, saudara dilarang merokok&lt;br /&gt;7. Buku itu saya sudah baca hingga tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jawab&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;I. 1. Tunggal&lt;br /&gt;   2. Tentangan&lt;br /&gt;   3. Tentangan&lt;br /&gt;   4. Pilihan&lt;br /&gt;   5. Tentangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. &lt;br /&gt;1. Di Negara itu, penyakit-penyakit berbahaya masih dikhawatirkan akan selalu mengancam setiap waktu&lt;br /&gt;2. saya mengucapkan terima kasih banyak atas perhatian, bimbingan juga kritikan yang diberikan dan saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam karya saya ini&lt;br /&gt;3. Dengan kuasa Allah, di dalam keluarga, dua orang manusia, mampu menciptakan seorang manusia baru&lt;br /&gt;4. Kegunaan gedung sekolah dalam menjalankan pendidikan yang meliputi sekolah yang rendah tingkatannya sampai pada sekolah tinggi&lt;br /&gt;5. Selain udara, matahari juga berguna bagi pembentukan vitamin d dan tulang&lt;br /&gt;6. Demi kepentingan saudara sendiri, saudara dilarang merokok&lt;br /&gt;    Atau Untuk kepentingan saudara sendiri, saudara dilarang merokok&lt;br /&gt;7. Buku itu sudah saya baca hingga tamat &lt;br /&gt;- sudah saya baca buku itu hingga tamat&lt;br /&gt;- saya sudah membaca buku itu hingga tamat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-4331335590966474466?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/4331335590966474466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=4331335590966474466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/4331335590966474466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/4331335590966474466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2009/10/kalimat-yang-efektif.html' title='Kalimat yang Efektif'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-6803758176386230762</id><published>2009-10-02T18:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T05:32:51.479-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemberitahuan'/><title type='text'>Target Pekuliahan Menulis Buku Ilmiah Tahun Ajaran 2009/2010</title><content type='html'>Pada tahun ajaran 2009/2010 ini target perkuliahan Menulis Buku Ilmiah adalah mahasiswa menghasilkan buku bacaan sesuai dengan minat/konsentrasinya. Minat/konsentrasi yang dimaksudkan adalah: kesastraan, kebahasaan, sosiolinguistik, keterampilan bahasa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi penulisannya dilakukan secara kolaboratif sehingga setiap tahapan penulisan dikontrol oleh kolaboratornya. Kontrol kolaborator diarahkan pada semua hal. Mulai dari keakuratan materi, strategi penyajian, sampai dengan kebenaran ejaannya. Dengan cara demikian, penulis akan sadar betul apa yang ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja semua langkah penulisan dan hasil "transaksi" dengan kolaborator di bawah pengawasan pembina MK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, bersemangat! Keberhasilan Anda merupakan saham kesuksesan masa depan Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-6803758176386230762?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/6803758176386230762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=6803758176386230762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/6803758176386230762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/6803758176386230762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2009/10/target-pekuliahan-menulis-buku-ilmiah.html' title='Target Pekuliahan Menulis Buku Ilmiah Tahun Ajaran 2009/2010'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-2981244895570230955</id><published>2009-09-17T09:12:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T08:59:55.897-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dokumentasi Kegiatan'/><title type='text'>KEGIATAN PERKULIAHAN MENULIS BUKU ILMIAH</title><content type='html'>Pada semester Ganjil tahun ajaran 2009/2010 Masnur Muslich membina matakuliah Menulis Buku iLMIAH pada Program Bahasa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Minggu-minggu pertama para peserta malakukan "pelacakan" profil buku ilmiah yang paling diidealkan. Kegiatan ini bertujuan agar para peserta dapat memperoleh wawasan langsung tentang profil buku ilmiah dengan jalan mendeskripsikan ciri-ciri buku ilmiah, menilai kelebihan dan kekuangan buku ilmiah yang diamatinya, dan memberikan saran-saran tentang bagaimana buku ilmiah yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJjYasz0gI/AAAAAAAAAYw/FirrGCrIUr4/s1600-h/DSC00219.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJjYasz0gI/AAAAAAAAAYw/FirrGCrIUr4/s320/DSC00219.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382473775796441602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJiykVqdJI/AAAAAAAAAYo/sVB2jYFGxfY/s1600-h/DSC00214.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJiykVqdJI/AAAAAAAAAYo/sVB2jYFGxfY/s320/DSC00214.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382473125548684434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJiMnofSyI/AAAAAAAAAYg/uekaFtyEokI/s1600-h/DSC00218.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJiMnofSyI/AAAAAAAAAYg/uekaFtyEokI/s320/DSC00218.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382472473597922082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para peserta matakuliah Menulis Buku Ilmiah sedang mengamati buku ilmiah secara berkelompok. Pengamatan difokuskan pada ciri-ciri, kelebihan dan kekurangan buku ilmiah yang diamati, dan alernatif perbaikannya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJlpun4TFI/AAAAAAAAAZI/VnzUm11aB_U/s1600-h/DSC00207.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJlpun4TFI/AAAAAAAAAZI/VnzUm11aB_U/s320/DSC00207.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382476272225504338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJlDIqUaYI/AAAAAAAAAZA/yVAhCDvWhdc/s1600-h/DSC00209.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJlDIqUaYI/AAAAAAAAAZA/yVAhCDvWhdc/s320/DSC00209.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382475609200159106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJkksjwv9I/AAAAAAAAAY4/twJDnhIeb1c/s1600-h/DSC00208.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJkksjwv9I/AAAAAAAAAY4/twJDnhIeb1c/s320/DSC00208.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382475086260387794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anggota kelompok sedang melaporkan hasil deskripsi dan penilaian terhadap buku ilmiah yang telah diamati di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari kelompok lain&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-2981244895570230955?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/2981244895570230955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=2981244895570230955' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/2981244895570230955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/2981244895570230955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2009/09/kegiatan-perkuliahan-menulis-buku-ajar.html' title='KEGIATAN PERKULIAHAN MENULIS BUKU ILMIAH'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SrJjYasz0gI/AAAAAAAAAYw/FirrGCrIUr4/s72-c/DSC00219.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-8155395918023562080</id><published>2009-07-08T20:00:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T20:02:18.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Presentasi'/><title type='text'>Presentasi Matakuliah "Menulis Buku Ilmiah" oleh Masnur Muslich</title><content type='html'>Beeeerikut ini silakan diunduh slide Presentasi Matakuliah "Menulis Buku Ilmiah" yang disusun oleh Masnur Muslich:&lt;br /&gt;http://www.ziddu.com/download/5531472/MenulisBukuIlmiahPresentasi.ppt.html&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/5531472/MenulisBukuIlmiahPresentasi.ppt.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-8155395918023562080?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/8155395918023562080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=8155395918023562080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/8155395918023562080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/8155395918023562080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2009/07/presentasi-matakuliah-menulis-buku.html' title='Presentasi Matakuliah &quot;Menulis Buku Ilmiah&quot; oleh Masnur Muslich'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-2458133746220380526</id><published>2009-03-18T05:26:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T05:40:47.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Menulis KTI itu Mudah: Pedoman Praktis bagi Guru Profesional</title><content type='html'>Oleh Masnur Muslich&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PRAKATA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku ini didasari pertimbangan berikut. Selama ini guru-guru sudah sering mendapatkan teori penulisan karya ilmiah (KTI) lewat berbagai forum seminar dan/atau lokakarya yang berlabel “KTI” tetapi sebagian besar di antara mereka tetap saja kurang –  bahkan tidak – dapat menulis KTI sesuai dengan yang diharapkan.  Biangnya adalah materi yang dibicarakan dalam forum ilmiah “bergengsi” tersebut masih berkutat pada tataran teoretis dan  belum menyentuh kebutuhan praktis. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan padan langkah-langkah konkret apa yang harus dilakukan dalam penulisan KTI, mereka tetap saja dirundung kecanggungan dan kebingungan.&lt;br /&gt;Kedua, ketika lima tahun terakhir ini penulis dimintai bantuan oleh sekelompok guru untuk melakukan pendampingan penulisan KTI, mereka ternyata dapat melaksanakannya dengan lancar mulai pada tahap perencanaan, pelaksanakan, sampai pada tahap pelaporan. Keberhasilan ini bukan karena penulis ikut campur dalam penulisannyanya, tetapi hanyalah memberikan saran-saran konkret apa yang harus mereka lakukan setiap tahapan dalam pengembangan KTI. Akibat lanjutnya adalah para guru yang sebelumnya kepangkatan mereka macet pada golongan IVA sekarang naik menjadi IVB, bahkan empat tahun berikutnya menjadi IVC. Kelancaran ini karena syarat utama yang berupa KTI mendapatkan nilai maksimal dari Tim Penilai Provinsi atau Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi.&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari kewajiban moral, pengalaman keberhasilan pendampingan tersebut perlu penulis tularkan kepada para guru yang selama ini mendambakan keberhasilan penulisan KTI. Apakah karena mereka dilatarbelakangi oleh kemacetan kenaikan pangkat atau memang ingin menjadi sosok guru yang profesional karena selalu ingin meningkatkan keberhasilan dalam penyampaian gagasan kritis terkait dengan bidang studi yang digelutinya . &lt;br /&gt;Atas pertimbangan itulah, buku bertajuk Menulis  KTI itu Mudah ini disusun. Semoga upaya ini ada guna dan manfaatnya bagi para “pahlawan pendidikan” demi masa depan anak bangsa.  &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Malang, Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masnur Muslich &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR ISI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakata&lt;br /&gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;Bab 1: APA ITU KTI?&lt;br /&gt; a. Mengapa KTI Menjadi Pilihan?&lt;br /&gt; B. Apa Perbedaan KTI dan Jenis Karya Ilmiah yang Lain?&lt;br /&gt; C. Apa Ciri Karya Tulis Ilmiah?&lt;br /&gt; D. Apa itu Sikap Ilmiah?&lt;br /&gt; E. Apa Jenis KTI Anda?&lt;br /&gt;BAB 2: BAGAIMANA MEMILIH TOPIK?&lt;br /&gt; A. Apa itu Topik?&lt;br /&gt; B. Dari Mana Anda Memperoleh Topik?&lt;br /&gt; C. Apa Saja Syarat Topik KTI?&lt;br /&gt; D. Apa Jenis Topik KTI Anda?&lt;br /&gt; E. Apa Perbedaan Topik dan Judul?&lt;br /&gt;BAB 3: BAGAIMANA MENYUSUN KERANGKA KTI?&lt;br /&gt; A. Apa itu Kerangka?&lt;br /&gt; B. Bagaimana Tahapan Penyusunan Kerangka?&lt;br /&gt; C. Bagaimana Pola Kerangka KTI Hasil Kajian Pustaka?&lt;br /&gt; D. Bagaimana Pola Kerangka KTI Hasil Penelitian Kuantitatif?&lt;br /&gt; E. Bagaimana Pola Kerangka KTI Hasil Penelitian kualitatif?&lt;br /&gt; F. Bagaimana Pola Kerangka KTI Hasil Pengembangan?&lt;br /&gt;BAB 4: BAGAIMANA MENCARI BAHAN PENULISAN KTI?&lt;br /&gt; A. Apa itu Bahan?&lt;br /&gt; B. Apa saja Syarat Bahan?&lt;br /&gt; C. Bagaimana Tipe-tipe Bahan Penulisan?&lt;br /&gt; D. Bagaimana Cara Perekaman Bahan Pustaka?&lt;br /&gt; E. Bagaimana Cara Perekaman Bahan Hasil Penelitian?&lt;br /&gt;BAB 5: BAGAIMANA sistematikan dan konVensi penulisan KTI&lt;br /&gt; A. Bagaimana Sistematikan Penulisan KTI?&lt;br /&gt; B. Bagaimana Penulisan Kutipan?&lt;br /&gt; C. Bagaimana Penulisan Pustaka Acuan?&lt;br /&gt; D. Bagaimana Penulisan Tabel dan Gambar?&lt;br /&gt;BAB 6: BAGAIMANA penggunaan bahasa dalam KTI?&lt;br /&gt; A. Bagaimana Penggunaan Kata dan Istilah? &lt;br /&gt; B. Bagamana Penyusunan Kalimat?&lt;br /&gt; C. Bagiamana Penyusunan Paragraf?&lt;br /&gt; D. Bagaimana Penggunaan Ejaan?&lt;br /&gt;BAB 7: BAGAIMANA KONVENSI PROFIL KESELURUHAN KTI?&lt;br /&gt; A. Bagaimana Bagian Awal KTI? &lt;br /&gt; B. Bagaimana Bagian Inti KTI?&lt;br /&gt; C. Bagaimana Bagian Akhir KTI?&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;LAMPIRAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB 1 APA ITU KTI?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Tulis Ilmiah atau KTI merupakan karya tulis yang menguraikan suatu tema atau topik yang terkait dengan disiplin atau bidang keilmuan tertentu. Bagi sebagian orang – mungkin termasuk Anda? – menulis KTI dianggap sebagai kegiatan yang memerlukan tenaga dan pikiran ekstra, terutama bagi yang kurang terbiasa atau kurang mampu tulis-menulis. Tetapi, kekurangmampuan ini tidak layak dipakai sebagai alasan untuk menyurutkan niat dan tekad Anda untuk menulis KTI. Sebab, tulis-menulis – termasuk menulis KTI – merupakan kegiatan yang bisa dipelajari dan diterampilkan dengan cara berlatih dan berlatih. Dengan membaca buku ini, dan mempraktikkan setiap langkah yang disarankan, Anda (selaku guru yang  berkomitmen terhadap profesionalitas) diharapkan bisa mewujudkan KTI yang (sebelumnya) Anda anggap berat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A.Mengapa KTI menjadi pilihan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari komunitas akademik, Anda tidak mungkin lepas dari kegiatan ilmiah, baik dalam bentuk kegiatan lisan (diskusi, seminar, loka karya) maupun kegiatan tulis-menulis (menyusun laporan, makalah, buku pelajaran, laporan hasil penelitian, dan karya ilmiah sejenis). Serangkaian kegiatan yang telah mentradisi di lingkungan komunitas akademik ini pada dasarnya adalah forum atau sarana penyampaian informasi baru, gagasan, kajian, atau temuan hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang-bidang keilmuan yang digelutinya. Lewat forum inilah Anda diharapkan bisa lebih memahami, mendalami, dan mengembangkan disiplin ilmu masing-masing. Oleh karena itu, akan naif kalau ada sosok guru – termasuk Anda? – dengan sengaja menghindari kegiatan-kegiatan ilmiah tersebut.&lt;br /&gt;Penulisan KTI juga merupakan bagian yang terpisahkan profesionalitas guru. Bahkan, karena pentingnya KTI ini, kelancaran Anda dalam pengembanagan karier juga ditentukan oleh seberapa jauh Anda dapat membuahkan KTI. Mengapa demikian? Karena KTI merupakan karya yang dianggap bisa memberikan indikator kadar pemahaman, ketelitian, dan inovasi atas disiplin ilmu yang Anda geluti. Oleh karena itu, tidak mustahil apabila terdapat beberapa guru yang kapangkatannya mentok di IVA dan tidak dapat naik pangkat ke IVB karena syarat utama KTI tidak terpenuhi. &lt;br /&gt;Lewat petunjuk praktis ini diharapkan Anda dapat dengan mudah menulis KTI. Tunjukkan bahwa Anda mampu, sebagaimana kemampuan Anda mengajar selama ini. Jangan patah semangat. Apabila KTI Anda berkualitas, Anda tentu tidak akan mengalami kemacetan dalam kenaikan pangkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Sebagai bahan perenungan, perhatikan esai ringan Tabrani Yuni yang bertajuk ”Bila Guru Mau Menulis” Berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;BILA GURU MAU MENULIS&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tabrani Yunis *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta, pernah mengungkapkan kepada public bahwa menulis itu mudah. Kalau tidak percaya, baca saja bukunya yang berjudul menggebrak dunia mengarang. Bahkan sang penulis yang berambut gondrong, yang menerbitkan sebuah tabloid remaja terkenal di tanah air, Arswendo Atmowiloto, mengatakan bahwa menulis itu gampang. Tidak juga percaya ? Baca saja bukunya Menulis itu gampang. Banyak lagi penulis lain yang selalu memotivasi para remaja, orang tua atau siapa saja untuk menulis. Hernowo, lelaki kelahiran Magelang yang kini menjadi penulis best seller di penerbit MLC yang sangat produktif dalam menuliskan kiat-kiat menulis juga mengatakan menulis itu sangat mudah. Salah satu bukunya yang masih baru adalah Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Berbagai kiat atau resep menulis ditawarkan kepada guru. Dalam kata pengantar di buku terbitan MLC itu, Hernowo berpesan berharap" saya ingin para pengajar di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Saya ingin sekali para pengajar itu dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Hernowo dengan bahasa yang cair itu menyuguhkan cara-cara yang mudah untuk menulis. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. And membaca surat kabar ? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali. Bukan ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis ? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus membuat karya tulis kalau mau cepat naik pangkat. Ketidak mampuan ini telah melahirkan sebuah kebohongan baru di dalam diri sebagian guru yang ingin cepat naik pangkat. Caranya banyak, bisa dengan meminta tanaga orang lain, dengan cara membayar dan bahkan bahkan dengan melakukan tindakan pemalsuan. Ini sebuah tindakan memalukan dan merendahkan kredibilitas guru. Padahal, kalau bisa menulis karya tulis sendiri, aktivitas ini adalah sebuah upaya pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri. Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang system dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula memaparkan tentang sisi-sisi kehidupan guru dan sebagainya. Di pihak lain, sebagai objek, selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan, sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru. Padahal, kalau semua ini ditulis oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru, kalau mereka mau menulis. Keuntungan-keuntungan itu antara lain: *Pertama*, kegiatan menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada guru. Ketika tulisan–tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media, kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong untuk menulis lagi. Kita juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu. Ini sering menjadi motivasi. Nah, bila guru banyak menulis, maka sang guru akan sangat termotivasi bahwakan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke dalam kelompok intelektual. Ini salah satu nilai positifnya. *Kedua,*kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai penulis Harefa). Karena kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti ril seperti membaca berbagai referensi atau literature dan juga membaca realitas social. Pada proses ini sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan mencari solusi. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru menjadi sosok pendidik yang kritis. Kalau ini dilakukan, kesan guru malas belajar akan pupus. *Ketiga*, percaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yang sering menulis di media massa, biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan si penulisnya. Guru juga akan bisa memiliki banyak penggemar di bidang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kalau guru mau menulis. "Keempat", tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa menambah *income*. Tidak percaya ? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis ke media. Bila tulisan dimuat, maka kocek akan bertambah. Bagi guru menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat kesejahteraannya. Dan Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku, performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya ? Silakan coba. *Kelima*, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru. Dengan menulis, guru bisa menambah angka kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel yang dimuat di media massa, nilai kreditnya 2 point. Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru,kalau guru mau menulis. Betapa sayangnya, kalau guru malas, atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas "Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru bisa menulis. Bukankah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Guru memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solusif ? Bukankah merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau guru banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah tulisan, apapun bentuknya. Apakah para guru harus diberikan dorongan ekstra ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau guru mau berlatih, bertlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Kalau guru mau menulis,pasti akan banyak anak didik yang bisa menjadi penulis andalan. Kiranya tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk menulis. Yang ada mari mencoba, membangun diri dengan menulis Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, manfaat akademis yang bisa segera Anda peroleh adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;- Anda terpacu membaca secara efektif.&lt;br /&gt;- Anda terlatih menggabungkan hasil bacaan, menyarikan, dan mengembangkannya.&lt;br /&gt;- Anda terbiasa melacak atau mencari informasi di perpustakaan.&lt;br /&gt;- Anda terbiasa menemukan fakta, mengorganisasikan, dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis.&lt;br /&gt;- Anda terbiasa berpikir ilmiah, baik secara induktif, deduktif, maupun penggabungan keduanya.&lt;br /&gt;- Anda akan mendapatkan kepuasaan intelektual.&lt;br /&gt;- Anda akan turut andil dalam membuka cakarawala iptek bagi masyarakat.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.Apa saja jenis KTI itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terdapat berbagai jenis KTI yang selama ini sering kita jumpai, yaitu makalah, kertas kerja, artikel, laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi. Apa perbedaannya?&lt;br /&gt;Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah dalam bidang tertentu yang pembahasaanya berdasarkan data empiris dan objektif di lapangan, dan yang penyajianya mengikuti proses berpikir deduktif atau induktif. Makalah biasanya disusun oleh seseorang (termasuk Anda sebaai guru) ketika ditunjuk sebagai nara sumber dalam suatu seminar, diskusi, atau forum ilmiah lainnya. Oleh karena itu, nara sumber tersebut biasa disebut ”pemakalah”. Dengan demikian, walaupun merupakan bentuk paling sederhana di antara karya tulis yang ada, makalah juga memiliki ciri-ciri sebagai karya ilmiah, yaitu objektif, netral, faktual, sistemis, dan logis.&lt;br /&gt;Kertas kerja, seperti halnya makalah, juga karya ilmiah yang menyajikan bidang tertentu yang pembahasannya berdasarkan data empiris dan objektif di lapangan, dan penyajiannya mengikuti proses berpikir deduktif atau induktif. Hanya saja, analisis dalam kertas kerja lebih mendalam dan aplikatif. Karena sifat analisis yang demikian, kertas kerja ini layak dipakai sebagai bahan sajian dalam lokakarya (sanggar kerja, work shop). &lt;br /&gt;Artikel  adalah karya ilmiah yang menyajikan bidang tertentu yang pembahasannya berdasarkan data empiris dan objektif di lapangan, dan penyajiannya mengikuti proses berpikir deduktif atau induktif. Hanya saja, karena dipersiapkan untuk dimuat di jurnal atau majalah ilmiah, sajiannya mengikuti pola atau format yang dikehendaki tim redaksi jurnal atau majalah tersebut. Anda pun hendaknya membiasakan diri untuk menulis artikel yang siap dimuat di jurnal atau majalah profesi. Beberapa lembaga pendidikan atau kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat Provinsi biasanya mempunyai jurnal atau majalah berkala yang siap memuat tulisan para guru. Sebagai ajang kreativitas dan demi peningkatan profesi, media ini sepatutnya Anda manfaatkan. Contoh jenis artikel dapat Anda lihat pada Lampiran.&lt;br /&gt;Laporan penelitian adalah karya ilmiah yang berisi laporan hasil penelitian yang ditulis oleh peneliti yang bersangkutan. Penelitian yang dilaporkan bisa berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK), hasil penelitian eksperimental, atau hasil penelitian pengembangan. Dalam pengerjaan penelitian, peneliti bisa melakukanya secara individu atau secara tim. Selain itu, peneliti pun dapat minta bimbingan kepada para pakar di bidangnya agar proses dan hasil penelitiannya dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi isi maupun teknik penyampaiannya.&lt;br /&gt;Skripsi adalah karya ilmiah yang ditulis mahasiswa program S1 yang membahas topik atau bidang tertentu berdasarkan hasil kajian pustaka yang ditulis oleh para ahli, hasil penelitian lapangan, atau hasil pengembangan (eksperimen). Dalam pengerjaan skripsi, mahasiswa dibimbing oleh minimal dua orang dosen pembimbing yang ditunjuk oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Pembimbingan ini dimaksudkan agar hasil skrpsi mahasiswa berkualitas baik dari segi isi maupun teknik penyampaiannya.&lt;br /&gt;Tesis adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program S2 (master) pada akhir studinya. Pembahasan topik pada tesis lebih mendalam daripada KTI. Oleh karena itu, pembahasan suatu topik yang hanya terbatas pada studi pustaka yang biasa terdapat pada KTI, tidak dilakukan dalam tesis. Topik tesis lebih mengarah pada penelitian lapangan dan pengembangan (eksperimen). Temuan-temuan dari penelitian lapangan dan pengembangan (eksperimen) dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada, dan sebagai dasar untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. &lt;br /&gt;Disertasi adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program S3 (doktor) yang mengemukakan dalil atau teori baru berdasarkan hasil temuan lapangan, baik lewat penelitian maupun pengembangan (eksperimen). Temuan-temuan baru ini akan diterima di kalangan komunitas akademik setelah dipertanggungjawabkan atau dipertahankan di hadapan forum ujian senat guru besar pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Oleh karena itu, temuan teori pada disertasi bisa dianggap sebagai temuan yang orisinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.Apa ciri KTI?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;KTI berbeda dengan karya tulis jurnalistik. KTI juga berbeda dengan karya tulis prosa fiksi. Perbedaan itu terlihat pada hal-hal berkut.&lt;br /&gt;Apabila karya tulis jurnalistik mendeskripsikan objek atau menceritakan peristiwa sebagai tujuan utama penulisan, KTI mendeskripsikan objek atau menceritakan peristiwa sebagai bukti yang mendasari penyimpulan sebuah teori. Oleh karena itu, tugas jurnalis adalah “memfoto” fenomena apa adanya, tanpa diikuti komentar atau analisis teori. Sebaliknya, tugas ilmuwan atau akademisi adalah menganalisis fenomena berdasarkan teori tertentu.&lt;br /&gt;Apabila karya tulis prosa fiksi menonjolkan ekspresi emosi atau perasaan, KTI menonjolkan ekspresi akal pikiran. Oleh karena itu, pengarang prosa fiksi bebas mengekspresikan imajinasinya yang subjektif. Sebaliknya, penulis KTI bebas mengekspresikan analisis logis yang objektif.&lt;br /&gt;Sebagai bahan banding, perhatikan ketiga wacana berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wacana 1:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ujian Kesetaraan Paket C Diikuti 65% Siswa Gagal UN&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA--MIOL: Ujian Nasional (UN) Kesetaraan Paket C yang berlangsung serentak di seluruh Indonesia, Senin (28/8), diikuti 200.968 peserta, umumnya berjalan lancar. Sebanyak 65 persen peserta itu di antaranya, merupakan siswa yang gagal UN formal 2006.&lt;br /&gt;Direktur Pendidikan Kesetaraan, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas, Ella Yulaelawati mengatakan laporan dari daerah-daerah menyebutkan UN Kesetaraan Paket C yang dimulai 28 Agustus-31 Agustus berjalan lancar. Paket A dan B dimulai 31 Agustus-2 September. Pengumumannya serentak pada 28 September mendatang.&lt;br /&gt;Namun, untuk UN Kesetaraan tahun mendatang akan diselenggarakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Tujuannya, antara lain, agar jadualnya bisa disesuaikan dengan penerimaan mahasiswa baru pada tahun yang sama.&lt;br /&gt;"Pak menteri juga menghendaki begitu, agar diselenggarakan oleh BSNP. Ini juga dalam kaitan pelayanan kepada peserta didik nonformal, agar lebih mudah bila mau ke perguruan tinggi," kata Ella di sela kunjungannya ke lokasi UN Kesetaraan hari pertama di wilayah Jakarta, Senin.&lt;br /&gt;Didampingi Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta Ella meninjau lokasi UN Kesetaraan di Jakarta Selatan di SMK 6, SMKN 29, SMK Purnama, SMKN 8 Pasar Minggu, SMKN 47. Sedangkan, di Jakarta Timur dipusatkan di Akademi Sekretaris Manajemen Indonesia (ASMI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman seleksi&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman seleksi penerimaan mahasiswa melalui jalur PSMB 2006 siswa yang gagal UN formal 2006 mengalami kesulitan menempuh seleksi ke perguruan tinggi, karena saat yang ditentukan belum memiliki ijazah.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Ella menyebutkan idealnya UN Paket C diselenggarakan tidak jauh sesudah pengumuman UN Formal, sehingga mereka yang gagal UN Formal bisa langsung ikut UN Kesetaraan Paket C. "Ini dalam kaitan pelayanan. Jangan diartikan pelarian bagi peserta tersebut."&lt;br /&gt;Pertimbangan lain secara teknisnya, ada beberapa mata pelajaran yang diujikan ternyata tidak dipelajari siswa yang gagal UN Formal. Misalnya, pelajaran tata negara yang diujikan di Paket C, ternyata tidak dipelajari di SMK.&lt;br /&gt;"Mereka jadi tegang juga, deg-degan soal lulus tidaknya, karena ada materi ujian yang belum mereka pelajari," ujar Ella seraya menambahkan tingkat kelulusan sebelumnya di program Paket C untuk IPS 75 dan IPA 65 dari total peserta. Dengan standar kelulusan rata-rata 4,75.&lt;br /&gt;Namun, diakuinya rata-rata siswa yang gagal UN ini sudah diterima di perguruan tinggi swasta. Bahkan, banyak juga yang diterima di sekolah di luar negeri. Mereka hanya membutuhkan selembar ijazah sebagai salah satu persyaratan untuk masuk ke dunia kampus tersebut.&lt;br /&gt;Data final Puspendik pada 26 Agustus lalu menyebutkan peserta UN Kesetaraan Paket A 17.481 orang, Paket B 245.698 peserta, Paket C 200.968 peserta. Jumlah total 464.147 atau naik 920 peserta. &lt;br /&gt;Jumlah peserta pada Mei-Juni 2006 280.980. Jadi, total peserta tahun ini 745.127. Jumlah peserta UN Kesetaraan 2006 meningkat pesat dibandingkan Mei-November 2005 sebanyak 224.901 orang, kenaikannya 231,3 persen.&lt;br /&gt;Provinsi dengan jumlah peserta terbesar pada periode kedua Jawa Tengah (80.627), Jawa Timur (44.850, Jawa Barat (33.055), Nusa Tenggara Timur (30.137), Kalimantan Barat (23.125), dan Sumatra Utara (21.020).&lt;br /&gt;Peserta DKI untuk Paket A 252, Paket B 1.807, Paket C 8.720. Jumlah totalnya, 10.779 peserta. Tingkat kelulusan UN untuk Mei-Juni 2006 secara nasional kecuali DIY dan Kabupaten Klaten untuk Paket A 84,28, Paket B 88,3, Paket C IPS 75,26 dan Paket C IPA 65,57 persen. Pelaksanaan UN Kesetaraan DIY dan Kabupaten Klaten diundur, karena gempa. Tingkat kelulusan di DIY untuk paket C IPS 62,23 dan Paket C IPA 33,33. Tingkat kelulusan di Kabupaten Klaten untuk Paket C IPS 51,38. (Win/OL-02).&lt;br /&gt;(sumber: media indonesia online)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wacana 2:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tangisan Tak Berpeluh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ada acara akhir pekan ini?”&lt;br /&gt;Erfan adalah lelaki yang baik. Justru kebaikannya itulah aku sengaja agak menjauh dari dirinya. Mungkin lebih tepatnya kukatakan saja bahwa Erfan itu adalah lelaki yang terlalu baik bagiku. Aku juga tidak mau kebaikannya itu lama kelamaan akan diterjemahkan lain oleh hatiku. Karena hatiku sulit membedakan antara kebaikan seorang lelaki dengan kebaikan –dengan tanda petik di atasnya — dari seorang teman lelaki. Aku tak mau hal itu terjadi antara diriku dan Erfan.&lt;br /&gt;“Aku punya dua tiket untuk nonton film.”&lt;br /&gt;Ia rekan kerjaku sekantor. Meja kami bersebelahan. Hanya disekat dengan papan kecil dan beberapa tumpukan buku. Dengan sedikit melongok, aku sudah dapat mengetahui apa saja yang ia lakukan. Dan tentu saja aku tak akan pernah melakukan hal itu, kecuali beberapa kali saja.&lt;br /&gt;Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya bahwa Erfan adalah lelaki yang baik. Teramat sangat baik, bahkan. Ia selalu membantu kesulitanku di kantor. Memberiku kemungkinan solusi terbaik untuk setiap masalahku. Kalau ada sesuatu yang masih menyulitkanku, lelaki yang selalu bersikap sopan dan baik hati itulah yang menyarankan kepadaku agar untuk tidak ragu-ragu meminta bantuannya.&lt;br /&gt;“Film pada pekan ini bagus. Puluhan penonton rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket dan menonton film yang sedang menjadi box office. Makanya aku membeli dua tiket.”&lt;br /&gt;Aku adalah pegawai baru di perusahaan ini. Aku baru saja mendapatkan gelar sarjana ekonomi, dan semenjak saat itu aku selalu menambahkan huruf SE di belakang namaku.&lt;br /&gt;Aslika Putri Diyanti, SE.&lt;br /&gt;Kupasang ID card di dadaku. Namaku tercantum tepat di bawah foto. Aku kembali bekerja di depan monitor, memasukkan data korespondensi dari perusahaan lain dan juga mendata hasil pemasaran jasa iklan. Pekerjaan ini harus segera kuselesaikan sesuai dengan date line yang ditentukan oleh atasan.&lt;br /&gt;“Mungkin lain kali saja. Tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;Aku yakin ia kecewa. Tapi apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak suka menonton film. Aku lebih suka menghabiskan akhir pekanku di rumah bersama ayah. Erfan, ia sungguh lelaki yang baik.&lt;br /&gt;Entah kenapa pagi ini – semenjak aku datang — aku merasa sangat bimbang. Apalagi aku adalah pegawai baru di kantor ini dan sekarang aku mendapatkan gosip pertamaku. Ketika makan siang pada jam istirahat kemarin, salah seorang teman sekantor berbisik kepadaku bahwa pandangan mata Erfan tertuju kepadaku. Teman sekantorku menyarankan agar aku tak menoleh kebelakang. Tapi, aku justru memastikan kata-kata teman sekantorku itu, kulihat Erfan sedang menikmati makan siang bersama rekan lelaki lainnya di seberang sambil menatapku. Kulihat senyum sipu ketika mata kami beradu.&lt;br /&gt;Pagi ini sepertinya Erfan tidak masuk kantor. Entah kenapa tiba-tiba hatiku gundah. Aku merindukan….Ah, lebih tepatnya aku menguatirkan keadannya. Lagi-lagi hatiku tak bisa membedakan antara kuatir dan rindu.&lt;br /&gt;Kulihat layar monitornya di sebelah mati. Buku-buku masih tertata rapi seperti biasanya. Ini sudah jam setengah delapan. Aku tidak tahu kemana lelaki itu. Aku juga masih takut untuk bertanya, karena aku tak mau egoku menuduh bahwa diriku memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wacana 3:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan manapun, termasuk di TK/ RA,  memiliki sifat yang kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikolo­gis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa permbelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Karena itu, guru harus mendamping peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda, sehingga menuntut materi yang sesuai dengan perkembangan masing-masing. Selain itu, aspek psi-kologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu sendiri mengan-dung variasi, misalnya  belajar keterampilan motorik,  belajar konsep, bel-ajar sikap, dan sebagainya. Perbedaan tersebut menuntut pembelajaran yang berbeda, sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan belajar peserta didik oleh guru. Dalam hal ini, guru harus menentukan secara tepat jenis belajar manakah yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan meng-ingat kompetensi dasar yang harus dicapai. Terkait dengan itu – sebagaimana yang disarankan oleh Depdiknas, guru harus bisa menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).&lt;br /&gt;Pembelajaran aktif (active instruction) merupakan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajar-an, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat me-ningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintetis, serta melakukan peni-laian ter­hadap berbagai peristiwa belajar, dan menerapkannya dalam kehi-dupan sehari-hari. Pembelajaran aktif memiliki persmaan dngan model pembelajaran self discovery, yaitu pembelajaran yang dilakukan oleh perserta didik untuk mene­mukan simpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;Dalam model pembelajaran aktif, guru lebih memosisikan diri sebagai fasi-litator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate of learn-ing) kepada peserta didik. Peserta didik terlibat secara aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak mem-perikan arahan,bimbingan, dan mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Pembelajaran kreatif (creative instruction) merupakan proses proses pem-belajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memuncul-kan kreativitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, dengan menggu­nakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah. Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk mampu merangsang kreativitas peserta didik, baik dalam mengembang­kan kecakapan berpikir maupun dalam melakukan tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan berpikir kritis, yaitu menemu-kan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu.&lt;br /&gt;Berpikir kreatif harus dikembangkan dalam proses pembelajaran agar peserta didik terbiasa untuk mengembangkan kreativitasnya. Pada umumnya berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagai berikut. Tahap pertama: persi­apan, yaitu proses pengumpulan berbagai informasi untuk diuji. Tahap kedua: inkubasi, yaitu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut  sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional. Tahap ketiga: iluminasi, yaitu suatu kondisi untuk mene-mukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat, dan rasional. Tahap keempat: verifikasi, yaitu pengujian kem­bali hipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep, atau teori. Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru.&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif  (effective instruction) merupakan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi peserta didik, dan mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksana­an, dan penilaian pembelajaran. Seluruh peserta didik harus dilibatkan secara penuh agar  bergairah dalam pembelajaran sehing-ga suasana pembelajaran betul-betul kondusif, dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi pe­serta didik.&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif menuntut keterlibaan peserta didik secara aktif karena mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompe-tensi. Peserta didik harus didorong untuk menafsirkan infromasi yang disaji-kan oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Dalam Pelaksanaannya, hal ini memerlukan proses pertukaran pikiran, dis-kusi dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi standar.&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif perlu ditunjang oleh suasana dan lingkungan belajar yang memadai. Dari itu, guru harus mampu mengelola tempat belajar de-ngan baik, mengelola peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi pembelajaran, dan mengelola sumber-sumber belajar.&lt;br /&gt;Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan proses pem-belajaran yang di dalamnya terdapat kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pres-sure). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran yang terdapat pola hubungan yang baik atau harmonis antara guru dan peserta didik. Guru memosisikan diri sebagai mitra belajar peserta didik. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana demokratis, dan tidak ada beban baik guru maupun peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi pembelajar-an yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi pembelajara yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan Anda terhadap ketiga wacana di atas, mana yang tergolong karya tulis jurnalistik? Mana pula yang tergolong karya fiksi dan KTI? Ya, wacana 1 tergolong karya jurnalistik, wacana 2 tergolong karya fiksi, dan wacana 3 tergolong KTI.&lt;br /&gt;Apa pun jenis karya ilmiah yang ditulis oleh siapa saja (termasuk Anda sebagai guru) – sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya – harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. &lt;br /&gt;Objektif. Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga, setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek kebenaran dan keabsahanya.&lt;br /&gt;Netral. Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat ‘mengajak’, ‘membujuk’, atau ‘mempengaruhi’ pembaca dihindarkan.&lt;br /&gt;Sistematis. Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.&lt;br /&gt;Logis. Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.&lt;br /&gt;Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan). Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.   &lt;br /&gt;KTI yang yang Anda susun juga harus mempunyai ciri-ciri di atas. Satu ciri saja terabaikan, akan menurunkan kualitas KTI Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D.Apa itu sikap ilmiah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah.  Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah, misalnya dalam diskusi, seminar, lokakarya, dan penulisan karya ilmiah, termasuk dalam penulisan KTI. Sikap-sikap ilmiah yang dimaksud adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Sikap ingin tahu. Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. Mengapa demikian? Bagaimana caranya? Apa saja unsur-unsurnya? Dan seterusnya, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Sikap kritis. Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Sikap terbuka. Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai. &lt;br /&gt;Sikap objektif. Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.&lt;br /&gt;Sikap rela menghargai karya orang lain. Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.&lt;br /&gt;Sikap berani mempertahankan kebenaran. Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada. &lt;br /&gt;Sikap menjangkau ke depan. Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya. &lt;br /&gt;Sikap ilmiah ini juga harus ada pada diri Anda ketika menyusun KTI. Kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan sikap ilmiah harus Anda buang jauh-jauh, misalnya sikap menonjolkan diri dan tidak menghargai pendapat orang lain, sikap ragu dan mudah putus asa, sikap skeptis dan tak acuh terhadap masalah yang dihadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E.Apa tipe KTI Anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan kajian dan tipe pembahasaannya, KTI dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu &lt;br /&gt;- KTI berdasarkan hasil kajian pustaka, &lt;br /&gt;- KTI berdasarkan hasil penelitian lapangan, dan&lt;br /&gt;- KTI berdasarkan hasil pengembangan.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kajian pustaka ialah kajian atau pembahasan suatu topik yang dilakukan untuk memecahkan suatu masalah yang berpijak pada pengkajian kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Bahan-bahan yang berupa informasi teoretis, penjelasan teknis, atau temuan aplikatif dari berbagai sumber pustaka ini dianalisis secara kritis dan disajikan dengan sistematika baru sesuai dengan keperluan tertentu. Dengan demikian, bahan-bahan pustaka ini diposisikan sebagai sumber ide atau sumber inspirasi yang dapat membangkitkan gagasan atau pemikiran baru. Oleh karena itu, pola pikir deduktif sering diterapkan dalam KTI jenis kajian pustaka ini.   &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penelitian lapangan ialah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Berdasarkan data empiris inilah peneliti melakukan analisis secara mendalam sesuai dengan teori yang relevan dan melakukan simpulan. Ditinjau dari pendekatannya, penelitian lapangan ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang pada dasarnya mengggunakan pola nalar deduktif-induktif, yaitu pola nalar yang berangkat dari kerangka teori, gagasan para ahli, atau pemahaman penelitian, kemudian dikembangkan menjadi serangkaian permasalahan dan kemungkinan-kemungkinan pemecahannya untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan. Semetara itu, penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan mengungkap gejala atau fenomena secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami sebagai sumber langsung lewat keterlibatan peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pola nalar induktif. Oleh karena itu, gambaran proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Dengan demikian, KTI jenis penelitian lapangan ini ada dua jenis, yaitu KTI penelitian lapangan kuantitatif dan KTI penelitian lapangan kualitatif.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan pengembangan ialah perancangan kegiatan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan aktual dengan memanfaatkan teori-teori, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian yang relevan. Oleh karena itu kegiatan pengembangan ini bersifat praktis-pragmatis. KTI berjenis pengembangan ini memiliki perbedaan bila dibanding dengan KTI berjenis penelitian lapangan. Apabila KTI berjenis penelitian lapangan berupaya menguji jawaban yang ajukan terhadap suatu masalah, KTI berjenis pengembangan berupaya menerapkan pemecahan suatu masalah. &lt;br /&gt;Dari ketiga jenis KTI tersebut, mana yang Anda pilih? Jawabannya tergantung pada jenis topik yang akan Anda kembangkan dalam KTI. Anda tidak perlu memaksakan ke jenis KTI tertentu. Yang penting, ikuti langkah-langkah penulisan KTI berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F.Apa saja langkah umum penulisan KTI?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda telah memantapkan diri untuk menulis KTI, langkah-langkah umum yang Anda lakukan adalah:&lt;br /&gt;- pemilihan topik KTI,&lt;br /&gt;- penyusunan kerangka KTI,&lt;br /&gt;- pengumpulan bahan KTI, dan&lt;br /&gt;- penulisan KTI,&lt;br /&gt;Keempat langkah tersebut dikatakan langkah umum karena setiap langkah masih ada tahapan-tahapan kegiatan teknis yang Anda lakukan. Anda tidak perlu risau dengan langkah-langkah ini karena setiap langkah Anda akan dipandu lewat pembahasan pada bab-bab berikutnya. Yang penting, Anda mengikuti setiap langkah yang disarankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;BUKTIKAN BAHWA ANDA BISA MENULIS KTI! &lt;br /&gt;LAKUKAN LANGKAH-LANGKAH PENULISAN SECARA MANTAP! &lt;br /&gt;IKUTI SETIAP LANGKAH YANG DISARANKAN PADA BAB BERIKUT!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===&lt;br /&gt;Anda ingin membaca selengkapnya? Baca bukunya yang segera akan terbit. Atau, hubungi Masnur Muslich via email: muslich_m@yahoo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-2458133746220380526?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/2458133746220380526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=2458133746220380526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/2458133746220380526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/2458133746220380526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2009/03/prakata-kehadiran-buku-ini-didasari.html' title='Menulis KTI itu Mudah: Pedoman Praktis bagi Guru Profesional'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-8991152950398466103</id><published>2008-10-12T10:05:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:53:08.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Presentasi'/><title type='text'>Kata Kajian dan Kata Populer</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Oleh Masnur Muslich&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kata Kajian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata yang perlu ditelaah lebih jauh lagi maknanya karena tidak bisa langsung dipahami oleh semua orang.&lt;br /&gt;Kata yang dipakai untuk suatu pengkajian atau kepentingan keilmuan.&lt;br /&gt;Kajian berarti hasil mengkaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ciri-ciri:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;-  Hanya dikenal orang tertentu  (ilmuwan, cendekia)&lt;br /&gt;-  Dipakai dalam kegiatan-kegiatan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kata populer&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata yang dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat dalam kehidupan sehari- hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ciri-ciri:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;-   mudah diketahui, dimengerti dan dipakai oleh masyarakat luas.&lt;br /&gt;-   dipakai dalam kehidupan sehari hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Contoh:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kata kajian&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;                            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;aktivitas                                      &lt;br /&gt;filter&lt;br /&gt;kotemplasi&lt;br /&gt;pasien&lt;br /&gt;alumnus&lt;br /&gt;rangking&lt;br /&gt;mengevaluasi&lt;br /&gt;introspeksi&lt;br /&gt;volume&lt;br /&gt;target&lt;br /&gt;motivasi&lt;br /&gt;imajinasi&lt;br /&gt;fiktif&lt;br /&gt;karakter&lt;br /&gt;agenda&lt;br /&gt;argumen&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kata Populer&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;kegiatan&lt;br /&gt;penyaring&lt;br /&gt;merenung&lt;br /&gt;orang sakit&lt;br /&gt;lulusan&lt;br /&gt;peringkat&lt;br /&gt;menilai&lt;br /&gt;koreksi diri&lt;br /&gt;isi&lt;br /&gt;sasaran&lt;br /&gt;dorongan&lt;br /&gt;khayalan&lt;br /&gt;tidak nyata&lt;br /&gt;perangai&lt;br /&gt;rencana&lt;br /&gt;pendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Contoh soal:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Deret kata yang termasuk kata populer adalah….&lt;br /&gt;    a. metode                   f. seminar&lt;br /&gt;    b. koreksi diri             g. pasar&lt;br /&gt;    c. cara                        h. introspeksi&lt;br /&gt;    d. mengevaluasi        i. menilai&lt;br /&gt;    e. bursa                      j. strategi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menurut Wibowo, tradisi bangun pagi hanya cocok untuk sopirnya. Dalam hati Wibowo selalu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;bertanya. Apakah prestasi belajarnya bisa meningkat bila sering bangun pagi?&lt;br /&gt;   Kata kajian yang tepat dari paragraf tersebut adalah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. (1) Dalam semester pertama saya meraih peringkat ketiga.&lt;br /&gt;    (2) Saya harus introspeksi diri pada semester kedua ini.&lt;br /&gt;    (3) Target saya dalam semester ini harus rangking pertama.&lt;br /&gt;    (4) Mudah-mudahan soal tesnya tidak terlalu sulit.&lt;br /&gt;    Kalimat manakah yang  menggunakan kata populer …&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;4. Minggu depan di Jakarta akan  diselenggarakan… tentang dampak kemajuan teknologi modern bagi masyarakat di pedesaan. Peserta yang sudah mendaftar sangat banyak.&lt;br /&gt;    Kata kajian yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Daya cipta pelaku seni seyogyanya senantiasa diasah untuk meningkatkan kualitas hasil kesenian mereka.&lt;br /&gt;    Kata daya cipta sepadan dengan kata….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kalimat yang memiliki kata kajian adalah….&lt;br /&gt;    a. Penelitian perlu dilakukan terus menerus untuk memperoleh hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;    b. Definisi terorisme harus dipertegas agar tidak terkesan menyinggung kelompok tertentu.&lt;br /&gt;    c. Perusahaan besar itu segera membuka cabang di Yogyakarta.&lt;br /&gt;    d. Orang yang tampak bersahaja itu ternyata lulusan PTN ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Yang merupakan deretan kata populer adalah….&lt;br /&gt;    a.  fakta, opini, intelektual&lt;br /&gt;    b.  harmonis, tradisional, fragmen&lt;br /&gt;    c.  sistematika, survey, evaluasi&lt;br /&gt;    d.  kolot, bagian, cabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  Kata populer dipergunakan dalam kalimat….&lt;br /&gt;    a. Tarian latar itu disusun oleh koreografer muda dan cantik.&lt;br /&gt;    b. Kata- kata pejabat tinggi itu haruslah berbobot.&lt;br /&gt;    c. Pola pikirnya selalu kontradiktif \dengan peserta lainnya.&lt;br /&gt;    d. Teater kotemporer pernah mengalami masa kejayaan beberapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;9.  Tentukan kata-kata berikut, termasuk kata kajian atau kata populer !&lt;br /&gt;    a. konsisten&lt;br /&gt;    b. contoh&lt;br /&gt;    c. evaluasi&lt;br /&gt;    d. rancangan&lt;br /&gt;    e. mengklasifikasi&lt;br /&gt;    f. pengobatan&lt;br /&gt;    g. intelegensi&lt;br /&gt;    h. pendidikan&lt;br /&gt;    i. desain&lt;br /&gt;    k. penilaian&lt;br /&gt;    l. makna&lt;br /&gt;    m. prospek&lt;br /&gt;    n. dorongan&lt;br /&gt;    o. jual – beli&lt;br /&gt;    p. persuasi&lt;br /&gt;    q. potensi&lt;br /&gt;    r. terapi&lt;br /&gt;    s. resesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.   Saat lemari es dinyalakan, kompresor akan menekan freon ke bagian pipa yang penampangnya lebih kecil. Akibatnya freon akan mencair dan melepaskan panas. Freon cair mengalir ke bagian pipa yang penampangnya lebih besar.     &lt;br /&gt;Perbedaan penampang ini mengakibatkan perbedaan tekanan di dalam pipa sehingga freon dipaksa berubah menjadi gas. Perubahan ini memerlukan panas dari udara di luar lemari es yang mengakibatkan lemari es menjadi dingin.&lt;br /&gt;    Kata kajian dalam paragraf tersebut adalah….&lt;br /&gt;   a. freon, kompresor, pipa, gas.&lt;br /&gt;   b. Kompresor, mengalir, pipa, gas.&lt;br /&gt;   c. Tekanan, perbedaan, panas, udara.&lt;br /&gt;   d. Kecil, penampang, lebih, dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Kalimat  yang menggunakan kata kajian adalah….&lt;br /&gt;   a. Penebangan atau penggundulan hutan dapat pula menimbulkan banjir pada musim hujan.&lt;br /&gt;   b. Mereka mengatakan bahwa lembah itu telah berubah menjadi pertokoan.&lt;br /&gt;   c. Masyarakat sudah menyadari akan bahaya polusi udara.&lt;br /&gt;   d.  Aku lebih banyak memberikan pupuk untuk semua tanamanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Dalam jajaran cagar alam di Pulau Jawa, Halimun dikategorikan menduduki          prioritas utama karena memiliki nilai yang istimewa.&lt;br /&gt;   Padanan kata dikategorikan dan prioritas adalah….&lt;br /&gt;   a. dinyatakan, diduduki&lt;br /&gt;   b. dikelompokkan, dinyatakan&lt;br /&gt;   c. digolongkan, diutamakan&lt;br /&gt;   d. disebut, ditempatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  Belajar pada dasarnya adalah rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan menghasilkan perubahan dalam dirinya. Perubahan itu dapat berupa tambahan pengetahuan atau keterampilan yang bersifat permanen.&lt;br /&gt;   Kata populer permanen adalah….      &lt;br /&gt;   a. mantap.                                            &lt;br /&gt;   b. tetap&lt;br /&gt;   c. tidak berubah-ubah&lt;br /&gt;   d. dinamis&lt;br /&gt;14. Santunan cacat akibat  kecelakaan kerja dapat diberikan secara berkala dan juga bisa diberikan secara &lt;em&gt;lumsum&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;   Arti kata kajian &lt;em&gt;lumsum&lt;/em&gt; pada kalimat tersebut adalah….&lt;br /&gt;   a. berangsur-angsur       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;b. dicicil       c. rawat jalan       d. dibayarkan sekaligus&lt;br /&gt;15. Kalimat berikut yang mengandung kata kajian adalah….&lt;br /&gt;    a. Mereka sedang mengerjakan tugas sekolah.&lt;br /&gt;    b. Pengumuman itu dipasang di papan pengumuman.&lt;br /&gt;    c. Gagasan itu disampaikan dalam rapat.&lt;br /&gt;    d. Lebih baik introspeksi daripada mencela orang lain.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-8991152950398466103?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/8991152950398466103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=8991152950398466103' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/8991152950398466103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/8991152950398466103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2008/10/kata-kajian-dan-kata-populer.html' title='Kata Kajian dan Kata Populer'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-7447345578345743604</id><published>2008-10-05T07:07:00.000-07:00</published><updated>2008-10-05T07:19:28.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>MENULIS ARTIKEL DAN KARYA ILMIAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Abstrak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Artikel merupakan sebuah karangan faktual (non fiksi), tentang suatu masalah secara lengkap yang panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat di surat kabar, majalah, bulletin dan sebagainya dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur. Artikel termasuk termasuk tulisan kategori views (pandangan), yaitu tulisan yang berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisannya tentang suatu masalah atau peristiwa. Sedang karya ilmiah adalah berbagai macam tulisan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan menggunakan tata cara ilmiah yakni sistem penulisan yang didasarkan pada sistem, masalah, tujuan, teori dan data untuk memberikan alternatif pemecahan masalah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menulis artikel dan karya ilmiah, kini bukan lagi sekedar hobi tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi kaum intelektual, terutama mereka yang menduduki jabatan fungsional, seperti guru, dosen, peneliti, dan sebagainya. Bagi mereka, menulis artikel di media massa, dan karya ilmiah pada jurnal penelitian, merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan angka kredit untuk menaikan jenjang jabatan fungsionalnya. Bagi mahasiswa, menulis karya ilmiah merupakan kewajiban, sebelum mereka menyelesaikan masa studinya dan diwisuda menjadi seorang sarjana.&lt;br /&gt;Namun demikian menulis artikel atau karya ilmiah tidaklah semudah membuat karangan biasa. Ide-ide atau gagasan-gagasan yang ada dalam benak kita, tidak bisa begitu saja kita tuangkan menjadi suatu tulisan artikel atau karya ilmiah. Karena untuk menjadi artikel atau karya ilmiah, apalagi yang dipublikasikan melalui media cetak, ide atau gagasan itu, terlebih dulu harus disesuaikan dengan visi dan misi media cetak yang akan memuatnya, atau harus mematuhi kaidah-kaidah ilmiah dalam prosedur karya tulis ilmiah. Inilah kendala yang selama ini dihadapi oleh para dosen, guru, peneliti dan pejabat fungsional lainnya. Ditambah lagi belum banyak buku panduan atau contoh tulisan yang dapat mereka jadikan rujukan.&lt;br /&gt;Menulis artikel pada media massa, dan karya ilmiah pada jurnal ilmiah bagi para guru, dosen, peneliti, mahasiswa dan siapa saja yang berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan, memang sangat penting dan dibutuhkan. Ini karena, dengan menulis artikel dan karya ilmiah, mereka akan terus berlatih untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang timbul baik dalam kancah keilmuan, maupun permasalahan sosial yang dihadapi pada kehidupan sosial sehari-hari. Dengan upaya memecahkan permasalahan itulah, daya pikir para guru, dosen, peneliti maupun mahasiswa terus terasah, sementara pemikiran kritis mereka semakin tajam. Ini sangat diperlukan bagi kalangan intelektual untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Sebenarnya, seiring dengan menjamurnya bisnis media cetak, kesempatan untuk menulis artikel terbuka semakin lebar. Inilah lahan subur bagi guru, dosen, peneliti, dan sebagainya, untuk berkarya memenuhi angka kredit bagi jenjang jabatan fungsionalnya. Jika karya tulisnya dimuat, selain karya tulisnya memperoleh angka kredit (credit point), juga mendapat honorium dari surat kabar atau majalah yang memuatnya. Ini merupakan penghargaan tambahan yang punya nilai tersendiri. Sayangnya tidak semua artikel bisa menembus media massa. Karena selain gaya penulisan yang harus komunikatif, artikelnya pun harus sesuai dengan misi, visi dan policy media cetak tersebut.&lt;br /&gt;Tulisan ini mencoba untuk memberi bekal, terutama bagi para dosen, guru, peneliti dan mahasiswa untuk lebih mengerti dan memahami tentang jenis-jenis artikel, kegunaannya, tata cara penulisan dan yang lebih penting bagaimana memahami policy redaktur media massa, sehingga tulisan artikelnya menjadi layak muat. Ini sangat penting mengingat kebanyakan penulis artikel gagal dimuat hanya karena tulisannya tidak sesuai dengan policy redaktur surat kabar atau majalah yang ditujunya.&lt;br /&gt;Demikian juga dengan penulisan karya ilmiah. Banyak para guru, dosen, peneliti yang jenjang jabatan fungsionalnya menjadi macet gara-gara tidak memenuhi KUM, misal jabatan fungsional dosen dari tenaga pengajar ke asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar dari unsur penulisan karya ilmiah, terutama dari hasil penelitian memerlukan ketekunan dan kejelian tersendiri, serta panduan orang-orang yang memang sudah sering melakukannya.&lt;br /&gt;Bagi mahasiswa, terutama dalam menyelesaikan tugasnya, baik tugas akhir mata kuliah maupun karya dalam mengakhiri studinya seperti skripsi, tesis maupun disertasi. Baik dalam etika penulisannya (aspek metodologi penelitian) maupun pemaparan urgensi masalahnya (teori yang dijadikan acuan pembahasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembahasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Artikel&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Artikel dalam bahasa Inggris ditulis “article”, sedang menurut kamus lengkap Inggris-Indonesia karangan Prof. Drs. S. Wojowasito dan W.J.S. Poerwodarminto, article berarti “karangan”. Sedangkan “artikel” dalam bahasa Indonesia, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti karangan di surat kabar, majalah dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam lingkup jurnalistik, para pakar komunikasi menerjemahkan artikel, berdasarkan sudut pandang masing-masing. Menurut R. Amak Syarifudin (Djuroto dan Bambang, :-), artikel adalah suatu tulisan tentang berbagai alat, mulai politik, sosial, ekonomi, budaya, teknologi, olah raga dan lain-lain. Misalnya tulisan mengenai kehidupan kewanitaaan, pemuda, sejarah, film, drama dan sebagainya. Tulisan semacam ini tidak terikat gaya bahasa maupun format tulisan. Tetapi untuk mendapatkan audience-nya, penulis artikel harus pandai mengungkapkan gaya tulisannya, agar tidak membosankan. Penulisan artikel di media massa (surat kabar atau majalah), tidak harus dilakukan oleh wartawannya sendiri, orang luar pun bisa menyumbangkan artikelnya. Dalam prakteknya penulisan artikel pada surat kabar atau majalah kebanyakan dari luar. Sedang menurut Tjuk Swarsono bahwa artikel adalah karangan yang menampung gagasan dan opini penulis, bisa berupa gagasan murni atau memungut dari sumber lain, referensi, perpustakaan, pernyataan orang dan sebagainya. Artikel mengharuskan penulis mencantumkan namanya secara lengkap (by name), sebagai tanggung jawab atas kebenaran tulisannya. Juga Asep Syamsul M. Romli menyebut artikel sebagai subuah karangan faktual (non fiksi), tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat disurat kabar, majalah, bulletin dan sebagainya, dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur. Artikel termasuk tulisan ketegori views (pandangan), yaitu tulisan yang berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisnya tentang suatu masalah atau peristiwa.&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semua tulisan di surat kabar atau majalah yang bukan berbentuk berita, bisa disebut artikel. Yang membedakan salah satunya adalah pemuatan artikel tersebut. Jika artikel itu dimuat pada halaman opini, disebut artikel umum. Bila diletakkan di halaman seni dan hiburan dikatakan esai, dan jika dimuat di kolom khusus redaksi, diberi nama tajuk rencana dan sebagainya.&lt;br /&gt;Menulis artikel berbeda dengan menulis berita. Kalau berita, apa yang ditulisnya itu harus berdasarkan fakta atas kejadian atau peristiwa yang terjadi. Boleh juga penulisan berita ditambah dengan interpretasi, sepanjang itu diperuntukkan bagi penjelasan fakta. Tetapi menulis berita, sama sekali tidak diperbolehkan memasukkan opini. Untuk mewadahi penyampaian opini masyarakat pada surat kabar atau majalah, disediakan kolom khusus yaitu halaman opini (opinion page).&lt;br /&gt;Lantas apakah penulisan artikel harus full opinion? Jawabnya tidak juga. Menulis artikel boleh dimulai dengan pemaparan fakta sebagai data dari apa yang akan ditulisnya. Dari data yang ada itulah penulis bisa memberikan pendapat, pandangan, gagasan, atau bahkan interpretasi dari fakta yang ada pada data tersebut. Agar tidak dibingungkan oleh istilah fakta, interpretasi dan opini, berikut perbedaan ketiga istilah tersebut.&lt;br /&gt;Fakta adalah kenyataan yang ada sesuai dengan data yang sebenarnya. Fakta bukan buah pikiran atau pernyataan. Namun demikian, buah pikiran atau pernyataan bisa menjadi fakta asalkan dilatarbelakangi oleh peristiwa yang sebenarnya. Ini disebut dengan fact in idea. Contoh Majelis Ulama Indonesia menyatakan. Bahwa bumbu masak Ajinomoto adalah haram. Pernyataan ini didasarkan pada penelitian mereka, yang menemukan bahan baku pembuatan Ajinomoto terakumulasi lemak babi (kasus Ajinomoto ). Penjelasan MUI tersebut meskipun merupakan pernyataan, bisa dianggap sebagai fakta karena pernyataan itu dilandasi dari hasil suatu penelitian.&lt;br /&gt; Interpretasi adalah hasil pemikiran berupa penafsiran, pengertian atau pemahaman. Boleh jadi penafsiran, pemikiran atau pemahaman seseorang dengan orang lain akan berbeda. Contoh: Presiden Abdurrahman Wahid, ternyata menyatakan bumbu masak Ajinomoto adalah halal. Meurutnya, lemak babi yang digunakan pada proses pembuatan Ajinomoto tidak menyentuh langsung bahan baku bumbu masak tersebut. Lemak babi hanya berfungsi memisahkan sel-sel pada tetes tebu sebagai bahan baku utama, sehingga tidak langsung menyentuh apalagi bercampur dengan bahan baku Ajinomoto tersebut.&lt;br /&gt;Opini adalah pendapat atau pandangan seseorang atau kelompok terhadap masalah atau peristiwa yang terjadi. Contoh pada kasus Ajinomoto tersebut, muncul berbagai pendapat (opini) yang di antaranya menyatakan, bahwa Presiden Abdurarrahman Wahid meng-halal-kan Ajinomoto tersebut karena khawatir kehilangan investasi dari Jepang yang menanamkan modalnya pada perusahaan Ajinomoto tersebut. Dan banyak lagi contoh opini lainnya.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, menulis berita bida gabungan antara fakta dan interpretasi. Sedangkan ertikel bisa terdiri dari ketiganya, yaitu fakta, interpretasi, dan opini. Penulisan artikel berbeda dengan komentar. Jika komentar tulisannya terfokus untuk menanggapi, atau mengomentari nuansa atau fenomena dari suatu permasalahan yang terjadi. Sedangkan artikel, penulisannya tidak sekadar mengomentari masalah, tetapi bisa juga mengajukan pandangan, pendapat atau pemikiran lain, baik yang sudah banyak diketahui masyarakat maupun yang belum diketahui.&lt;br /&gt;Kegunaan artikel bagi penerbit surat kabar atau majalah adalah untuk membedakan pemuatan antara berita (fakta) dan opini. Hampir semua penerbitan surat kabar menyediakan satu halaman. Khusus untuk artikel yang disebut opinion page. Halaman ini memberi kesempatan kepada khalayak pembacanya untuk menyampaikan pendapatnya (opini). Bagi penerbit media massa pengiriman artikel oleh pembacanya, merupakan bukti umpan balik bagi penerbitannya.&lt;br /&gt;            Bagi pembaca surat kabar atau majalah, halam artikel atau opinion page, dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pandangan, gagasan serta argumentasi dari berita-berita atau situasi yang terjadi dan terekam dalam banaknya. Artikel tidak sekadar sebagai penyampaian tanggapan atas suatu peristiwa yang termuat dalam suatu penerbitan surat kabar atau majalah, tetapi juga untuk kepentingan penulisannya sendiri. Bagi pegawai negeri atau karyawan swasta yang mempunyai jabatan fungsional seperti peneliti, dosen, guru dan sebagainya, artikel di media massa digunakan untuk memenuhi angka kredit bagi kenaikan jabatannya. Kenaikan jabatan fungsional bagi pegawai negeri atau perusahaan swasta, salah satu persyaratannya adalah dengan menulis artikel di media massa.&lt;br /&gt;            Dalam menulis artikel, memilih judul memerlukan perhatian khusus. Jika judul itu pas dan menarik, redaktur media massa tertarik pula untuk memuatnya. Itulah sebabnya memilih judul dalam penulisan artikel, memerlukan pemikiran, pertimbangan dan penyesuian secara khusus. Ada sebagian penulis yang menentukan judul artikelnya pada akhir dari proses penulisannya. Artinya, setelah semua permasalahan diungkapkan dalam bentuk artikel, baru ia menentukan judulnya. Tetapi ada juga justru sebaliknya, judul ditentukan terlebih dulu baru menulis isinya.&lt;br /&gt;            Pengalaman saya sebagai penulis, yang pertama dilakukan adalah menentukan topik lebih dulu, kemudian mencari literatur, mengungkapkan permasalahan, baru memilih judul yang tepat. Karena kadang-kadang, dari isi tulisan itulah justru muncul kata-kata yang tepat untuk sebuah judul. Judul sebuah artikel sebaiknya memenuhi kriteria berikut: () atraktif dan baru. Artinya judul  itu harus bersifat atraktif dan belum pernah dipakai oleh penulis lain. Sebaiknya judul dikaitkan dengan permasalahan inti dari artikel tersebut. Ini akan menarik dan mengundang rasa ingin tahu baik dari pembaca maupun oleh redaktur media massa; () tidak panjang. Membuat judul artikel jangan terlalu panjang, sebaiknya terdiri dari subjek dan predikat saja. Apabila ingin judul yang panjang, buatlah judul utama dan sub judul. Judul yang terlalu panjang, selain tidak menarik, juga menghabiskan kolom pada surat kabar, hal ini justru dihindari oleh redaktur media massa; () punya relevansi. Judul harus memiliki relevansi dengan isi artikel, sekaligus mencerminkan gagasan sentralnya. Artinya, jika artikel yang ditulis itu tentang dampak ekonomi, maka judulnya jangan berisi masalah ekonomi. Harusnya tentang dampak yang timbul dari gejolak ekonomi yang muncul.&lt;br /&gt;            Redaktur media massa biasanya mengelompokkan artikel, menjadi beberapa jenis berdasarkan sudut pandang penulis, dalam memaparkan ide atau gagasannya. Pengelompokan ini oleh redaktur dipakai untuk memudahkan penempatan pemuatannya, pada halam yang sesuai dengan misi dan visi penerbitannya. Ada lima jenis artikel antara lain: () eksploratif. Artikel eksploratif adalah artikel yang mengungkapkan fakta berdasarkan kajian penulisnya. Jenis ini cocok untuk menguraikan penemuan baru, misalnya seorang menemukan benda antik peninggalan zaman purba. Penulis artikel kemudian menelusuri sejarah barang yang ditemukan itu dan menguraikannya melalui suatu tulisan artikel. Tulisan ini menurut redaksi dikelompokkan dalam jenis artikel eksploratif; () eksplanatif, artinya menerangkan. Artikel eksplanatif adalah artikel yang isinya memnerangkan sesuatu untuk dapat dipahami pembaca. Misalnya ketika Presiden Gusdur berkeinginan membubarkan parlemen (DPR) dengan sebutan dekrit presiden, mengundang berbagai tanggapan dari pengamat. Penulis artikel yang jeli, membuat artikel dengan menerangkan apa sih sebenarnya dekrit presiden itu, bagaimana caranya dan sebagainya. Jika ada artikel seperti ini disebut artikel ekplanatif; () deskriptif, adalah artikel yang menggambarkan suatu permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, sehingga dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jenis artikel ini mirip dengan laporan atau reportase, bedanya jika laporan atau reportase hanya berdasarkan fakta saja, tetapi artikel, penulisnya bisa memasukan opini untuk memperjelas masalah yang digambarkan itu. Misalnya, ketika terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan dalam peristiwa Semanggi di Jakarta, seorang penulis yang kebetulan melihat secara langsung dalam peristiwa itu lantas menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dari peristiwa itu, dalam satu bentuk artikel; () prediktif, adalah artikel yang berisi perhitungan atau ramalan apa yang bakal terjadi di kemudian hari berdasarkan perhitungan penulisnya. Misal, ketika Bank Indonesia memutuskan suku bunga deposito, seorang pengamat ekonomi memperkirakan atau memprediksikan kelak kemudian hari bakal banyak deposan (orang yang mempunyai simpanan deposito) memindahlan uangnya ke luar negeri. Akibatnya modal dalam negeri banyak yang parkir di luar negeri. Arikel ini disebut artikel prediktif; () preskriptif, adalah artikel yang memberikan tuntunan kepada pembacanya untuk melakukan sesuatu sehingga tidak mengalami kekeliruan atau kesalahan. Misalnya artikel bagaimana caranya mengurus paspor, KTP atau SIM tanpa melalui perantara. Penjelasan detail yang sifatnya menuntun pembaca, sangat diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Karya Ilmiah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. H. Endang Danial AR., M.Pd. (:) bahwa karya ilmiah adalah berbagai macam tulisan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan menggunakan tata cara ilmiah. Tata cara ilmiah adalah suatu sistem penulisan yang didasarkan pada sistem, masalah, tujuan, teori dan data untuk memberikan alternatif pemecahan masalah tertentu. Sedangkan Djuroto dan Bambang (:-) bahwa karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan, tes laboratorium ataupun kajian pustaka. Maka dalam memaparkan dan menganalisis datanya harus berdasarkan pemikiran ilmiah. Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang logis dan empiris. Logis artinya masuk akal, sedangkan empiris adalah dibahas secara mendalam, berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan (dapat dibuktikan).&lt;br /&gt;Pemikiran ilmiah pada lingkup keilmuan, terdiri dari dua tingkatan yaitu, tingkat abstrak dan tingkat empiris. Pemikiran ilmiah tingkat abstrak berkaitan dengan penalaran. Pada tingkatan ini, pemikirannya bebas tetapi sedikit terikat dengan waktu atau ruangan. Sedangkan pemikiran empiris berkaitan dengan pengamatan. Kerena berkaitan dengan pengamatan, maka pemikiran empiris ini sangat terkait dengan waktu dan ruangan. Boleh jadi pemikiran empiris ini dilakukan dalam waktu dan ruangan tertentu.&lt;br /&gt;Dalam proses pemikiran ilmiah seseorang selalu memulai dengan apa yang disebut pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah, merupakan gabungan dari dua pendekatan yaitu pendekatan induktif dan pendekatan deduktif. Pemahaman terhadap pendekatan induktif dan deduktif ini perlu dilakukan secara bersama, karena hasil yang dicapai dari kedua pendekatan itu berbeda.&lt;br /&gt;Pendekatan induktif adalah pengalaman atau pengamatan seseorang pada tingkat empiris, menghasilkan konsep, memodifikasi model hipotesis menjadi teori, dan bermuara di tingkat abstrak. Pendekatan deduktif merupakan titik tolak penalaran serta perenungan di tingkat abstrak, yang menghasilkan pengukuran konsep serta pengujian hipotesis.&lt;br /&gt;Karya tulis ilmiah merupakan serangkaian kegiatan penulisan berdasarkan hasil penelitian, yang sistematis berdasar pada metode ilmiah, untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang muncul sebelumnya. Banyak cara untuk menemukan jawaban dari penelitian tersebut. Untuk memperjelas jawaban ilmiah terhadap permasalahan atau pertanyaan yang ada dalam penelitian, penulisan karya ilmiah harus menggali khazanah pustaka, guna melengkapi teori-teori atau konsep-konsep yang relevan dengan permasalahan yang ingin dijawabnya. Untuk itu penulisan karya ilmiah harus rajin dan teliti dalam hal membaca dan mencatat konsep-konsep serta teori-teori yang mendukung karya tulis ilmiahnya.&lt;br /&gt;Dalam memberikan jawaban terhadap permasalahan yang timbul pada suatu penelitian, penulisan karya ilmiah harus bisa membuktikan melalui dua cara. Pertama, jawaban itu merupakan jawaban final terhadap permasalahan penelitian. Kedua, jawaban tersebut harus menjadi jawaban yang paling benar, meskipun masih akan dibuktikan lagi pada tahap lainnya. Jawaban pertama erupakan konklusi yang nantinya sangat diperlukan sebagai suatu thesis. Sedangkan jawaban kedua, merupakan konklusi sementara yang nantinya diperlukan sebagai hipotesis.&lt;br /&gt;Meskipun jawaban penelitian tersebut sudah didapatkan, penulisan karya ilmiah masih harus membuktikan, apakah jawaban tersebut memang bisa dirasakan kebenarannya. Untuk itu diperlukan sumber informasi lainnya yang mendukung jawaban yang telah didapatkan. Jawaban permasalahan yang ada pada penelitian, bisa mendukung dan juga bisa menolak hipotesis yang ada. Jika jawaban itu mendukung hipotesis maka bisa dikatakan hipotesis diterima, tetapi jika jawabannya tidak mendukung hipotesis, maka disebut hipotesis dalam penelitian ini ditolak.&lt;br /&gt;Dengan demikian, penulisan karya ilmiah, hanya bisa dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas (dijawab) melalui kegiatan penelitian. Karena berdasarkan hasil penelitian, maka pada akhirnya penulisan karya ilmiah, selalu dikemukakan suatu kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan dimaksudkan sebagai pemikiran terakhir dari proses telaah melalui penelitian, sedangkan rekomendasi diperuntukkan bagi langkah selanjutnya dalam menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan.&lt;br /&gt;Kesimpulan atau temuan penelitian, tidak selalu berupa sesuatu halyang baru. Bisa jadi kesimpulan atau temuan dari hasil penelitian itu, merupakan kelanjutan dari kesimpulan atau temuan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya. Karena penelitian merupakan suatu proses, maka hasil penelitian itu tidak bisa dikatakan baik atau jelek. Jadi jika ada seseorang menyebut bahwa hasil penelitiannya itu baik atau tidak baik, atau juga menyebut benar atau tidak benar, maka sebutan itu tidak tepat. Yang tepat, sebutan untuk hasil penelitian adalah ukuran signifikansinya (significance) atau meyakinkan.&lt;br /&gt;Pada dasarnya semua ilmu ataupun teknologi yang ada di dunia ini, perlu diteliti, ditingkatkan dan dikembangkan fungsi dan peranannya untuk melahirkan perubahan. Karena yang kekal di dunia ini hanya satu, yaitu perubahan. Perubahan yang positif melahirkan kemajuan dan kemajuan inilah yang dituntut oleh ilmu pengetahuan. Tanpa kemajuan, kehidupan di dunia tidak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mencapai kemajuan adalah dengan melakukan pengamatan, pengkajian, dan penelitian dari sumber ilmu tersebut yang dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Salah satu  tugas para ilmuwan (scientists) atau para pandit (scolars) adalah memaparkan hasil kajian, pengamatan atau penelitiannya kepada masyarakat luas.&lt;br /&gt;Penulisan karya ilmiah diharapkan dapat membantu para cendekiawan untuk menemukan sesuatu yang baru, guna menunjang peningkatan taraf kehidupan masyarakat secara luas. Pada lingkungan perguruan tinggi karya ilmiah berupa skripsi digunakan untuk meraih gelar sarjana (S), tesis digunakan untuk magister (S), dan disertasi untuk gelar doktor (S). Sedangkan bagi pejabat fungsional, karya tulis ilmiah merupakan persyaratan untuk mendapatkan angka kredit bagi kenaikan jabatannya.&lt;br /&gt;Sebenarnya kegunaan penulisan karya ilmiah bukan hanya sekadar untuk mendapatkan gelar atau memperoleh kredit pont untuk kenaikan jabatan, tetapi tujuan utama dibuatnya karya tulis ilmiah adalah untuk mendokumentasikan hasil-hasil penelitian yang berhasil mendapatkan atau membuktikan kebenaran ilmiah. Mungkin yang tidak sama adalah gradasi kebenaran ilmiah yang ingin atau berhasil dicapai oleh seseorang. Bagi seorang peneliti profesional, keuntungan yang paling besar dan berharga dari semua karyanya adalah jika ia menemukan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan. Penemuan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan dalam karya tulis ilmiah ini bertujuan adalah () pengakuan scientific objective untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dengan pemaparan teori-teori baru yang sahih serta terandalkan, () pengakuan practicial objective guna membantu pemecahan problema praktisi yang mendesak.&lt;br /&gt;Judul adalah kepala karya tulis ilmiah, sedangkan topik adalah pokok-pokok permasalahan yang akan dijadikan objek dalam penelitian sebagai bahan utama penulisan karya ilmiah. Jadi topik bisa diangkat menjadi judul, tetapi sebaliknya judul bukan merupakan topik bahasan. Judul dalam suatu karya tulis ilmiah adalah ciri atau identitas yang menjiwai seluruh karya tulis ilmiah. Judul pada hakikatnya merupakan gambaran konseptual dari kerangka kerja suatu karya tulis ilmiah. Itu sebabnya, dalam penulisan karya tulis ilmiah tidak bisa memaparkan begitu saja dari apa yang akan ditulis, tetapi harus runtut mengikuti kerangka kerja (framework) dari konsep yang akan dipaparkannya.&lt;br /&gt;Judul merupakan kalimat yang terdiri dari kata-kata yang jelas, tidak kabur, singkat, tidak bertele-tele. Pemilihan kata-kata untuk judul sebaiknya saling terkait atau runtut, menggunakan kalimat yang tidak puitis apalagi sampai sensasional. Menurut Sutrisno Hadi (), judul mempunyai dua fungsi pokok dalam penulisan karya ilmiah. Bagi pembaca, judul menunjukkan hakikat dari objek penelitian yang dilakukan sebelumnya. Sedangkan bagi penulisnya, judul merupakan patokan dalam menyusun tulisannya.&lt;br /&gt;Memilih judul untuk suatu karya tulis ilmiah tidak sebebas membuat judul pada penulisan artikel. Judul karya tulis ilmiah harus disesuaikan dengan topik bahasan yang sudah ditentukan sebelumnya. Jelasnya pada penulisan karya ilmiah tidak bisa langsung menulis baru menentukan judulnya. Ini karena penulisan karya ilmiah terkait dengan kegiatan ilmiah, sementara kegiatan ilmiah sudah dibuat desainnya terlebih dahulu, di mana judul termasuk di dalamnya.&lt;br /&gt;Seperti halnya artikel, judul karya tulis ilmiah, sebaiknya tidak terlalu panjang dan jangan juga terlalu pendek. Jika judul terlalu panjang, orang yang membacanya akan kesulitan memahami apa sebenarnya yang ada dalam karya tulis ilmiah tersebut. Itu sebabnya judul yang panjang menjadi tidak menarik. Judul karya tulis ilmiah sebaiknya terdiri dari delapan sampai dua belas kata yang merupakan hubungan dua variabel atau lebih.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya semua karya tulis ilmiah itu sama yaitu hasil dari suatu kegiatan ilmiah. Yang membedakan hanyalah materi, susunan, tujuan serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah tersebut. Untuk membedakan jenis atau macam karya tulis ilmiah dipakai beberapa sebutan, seperti laporan praktikum, naskah berkala, laporan hasil studi lapangan, texbook, hand out, paper, pra skripsi, tesis dan disertasi.&lt;br /&gt;Penentuan jenis atau macam karya ilmiah biasanya disesuaikan dengan keperuntukan karya ilmiah tersebut. Secara garis besar, karya ilmiah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian. Karya ilmiah pendidikan digunakan sebagai tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan yang meliputi () paper (karya tulis) adalah karya ilmiah berisi ringksan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya. Tujuannya melatih mahasiswa untuk mengambil intisari dari mata kuliah atau ceramah yang diajarkan. Karena baru tahap untuk latihan, materi tulisannya juga masih sederhana, yaitu hanya berupa catatan poin-poin yang dianggap penting dari mata kuliah atau ceramah tersebut, kemudian dirangkai dalam susunan kalimat menjadi suatu karya tulis agar mudah dimengerti dan dipahami; () skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapatkan gelar sarjana (S). Istilah skripsi berasal dari kalimat deskripsi (deskription)  yang berarti memberikan gambaran tentang suatu masalah yang dibahas dengan memaparkan data serta pustaka untuk menghasilkan kesimpulan. Pembahasan dalam skripsi harus dilakuakn mengikuti pemikiran ilmiah yaitu logis dan empiris; () tesis adalah suatu karya ilmiah pendidikan yang diperuntukannya sebagai salah satu persyaratan bagi mahasiswa pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister (S). Istilah tesis berasal dari kata sinthesa (sinthation). Skripsi bertujuan mendeskripsikan ilmu, maka tesis bertujuan mensinthesakan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi, guna memperluas khazanah ilmu yang didapatkan di bangku kuliah. Perluasan khazanah itu terutama berupa temuan baru hasil dari suatu penelitian. Itu sebabnya penulisan skripsi dan tesis harus berdasarkan hasil penelitian ilmiah; () disertasi (dissertation) adalah suatu karya tulis ilmiah yang mempunyai sumbert utamanya berupa penyelidikan laboratorium, atau penelitian lapangan. Jadi disertasi harus menghasilkan suatu temuan baru, baik dari ilmua soasial maupunilmu eksakta. Di kalangan perguruan tinggi, karya tulis ilmiah disertasi  merupakan tugas akhir yang dibebankan kepada seorang mahasiswa dari perguruan tingginya untuk meraih gelar doktor. Itu sebabnya seorang doktor harus menemukan sesuatu yang dapat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Berbeda dengan penulisan skripsi atau tesis yang hanya bersumber dari data dan pustaka saja. Disertasi harus lebih lengkap lagi dengan tiga sumber sekaligus yaitu data lapangan, penelitian laboratorium serta kajian pustaka. Dalam mengungkapkan teori untuk memecahkan permasalahan, disertasi wajib menyatakan dalil-dalil atau teori-teori baru secara ilmiah yang diperolehnya, serta sanggahan terhadap teori lama dan sebagainya. Penemuan teori atau dalil baru inilah sebenarnya yang menunjukkan ciri khas suatu karya tulis ilmiah berupa disertasi.&lt;br /&gt;Temuan baru atau teori baru yang dihasilakan oleh suatu disertasi dapat berasal dari disiplin ilmu arau spesialisasi dari penulisnya sendiri atau berasal dari disiplin ilmu lainnya yang dapat menunjang atau membenarkan dalil atau teori baru yang diungkapkannya. Itu sebabnya penulisan disertasi membutuhkan waktu yang panjang, karena harus dapat menemukan dalil atau teori baru.&lt;br /&gt;Mahasiswa yang menulis disertasi disebut promovendus, dimana dalam pembuatan karya tulis ilmiah disertasinya itu di bawah bimbingan seorang atau beberapa orang guru besar (profesor) yang mempromotorinya. Para pembimbing inilah yang nantinya harus mempertahankan disertasi promovendus terhadap sanggahan yang akan diberikan oleh para penguji atau guru besar universitas di mana promosi seorang doktor itu dilaksanakan.&lt;br /&gt;            Karya ilmiah panduan, meliputi: () panduan pelajaran (texbook), untuk memberikan panduan (guidance) kepada mahasiswa, dosen atau masyarakat umum yang berminat membuat karya ilmiah, misalnya buku panduan  penulisan skripsi, panduan membuat laporan praktek kerja (magang), panduan membuat laporan kuliah kerja lapangan, dan sebagainya; () buku pegangan (handbook), bertujuan memberikan petunjuk cara mengoperasionalkan suatu barang yang sudah ada, misalnya buku pegangan mengoperasionalkan pengisian data penelitian dalam komputer, petunjuk penggunaan peralatan laboratorium, petunjuk pembuatan pertanyaan (kuesioner); () buku pelajaran (diktat), yakni dibuat oleh guru, dosen atau guru besar untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkannya.&lt;br /&gt;            Karya ilmiah referensi, meliputi: () kamus, berisi kata-kata yang mengandung arti yang sama, atau terjemahan kata dari dua bahasa atau lebih, misalnya kamus bahasa Inggris, bahasa Indonesia yang isinya memuat penjelasan lebih detail lagi dari suatu kata. Kamus juga bisa dikelompokkan kata-kata dalam lingkup tersendiri, misal kamus jurnalistik, kamus sosiologi, kamus antropologi, kamus ekonomi, kamus politik, kamus hukum dan sebagainya. Kamus-kamus tersebut biasanya dijadikan referensi bagi pelajar, mahasiswa dan juga masyarakat umum; () ensiklopedia adalah buku yang berisi berbagai keterangan atau uraian ringkas tentang cerita, ilmu pengetahuan yang disusun menurut abjad atau menurut lingkungan ilmu, misal ensiklopedia ilmu-ilmu sosial, ensiklopedia satwa Indonesia, ensiklopedia flora dan fauna Indonesia dan sebagainya.&lt;br /&gt;            Karya ilmiah penelitian, yang meliputi: () makalah seminar, yang terdiri atas naskah seminar dan naskah bersambung; () laporan hasil penelitian dan; () jurnal penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;a.        Karya ilmiah harus mengandung kebenaran ilmiah, yakni kebenaran yang tidak hanya didasarkan atas rasio, tetapi juga dapat dibuktikan secara empiris.&lt;br /&gt;b.        Prose berpikir ilmiah terdiri atas pengajuan masalah, perumusan hipotesis dan verifikasi data. Sedangkan hasilnya (hasil berpikir ilmiah) disajikan dan ditulis secara sistematis menurut aturan metode ilmiah.&lt;br /&gt;c.        Karya ilmiah biasanya ditampilkan dalam bentuk makalah ilmiah, skripsi, tesis, disertasi dan hasil penelitian. Penelitian ilmiah lebih ditujukan untuk pengembangan ilmu dan menguji kebenaran ilmu. Sedangkan makalah ilmiah dapat juga dibuat para mahasiswa di perguruan tinggi dalam rangka penyelesaian studinya. Proses berpikir ilmiah dapat dilakukan melalui pola berpikir deduktif dan berpikir induktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Danial AR, Endang. . Penulisan Karya Ilmiah: Salah Satu Pandunan untuk Mahasiswa dan Guru PPKN dalam Mengembangkan Profesi melalui Karya Tulis Ilmiah. Bandung: Ath-thoyyibiyah.&lt;br /&gt;Darmoto &amp;amp; Ani M..Hasan. . Menyelesaikan Skripsi dalam Satu Semester.Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;Djuroto, Totok dan Bambang Suprijadi. . Menulis Artikel &amp;amp; Karya Ilmiah. Bandung: Remaja Rosda Karya.&lt;br /&gt;Sudjana, Nana. . Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah: Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi. Jakarta: Sinar Baru Algesindo.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-7447345578345743604?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/7447345578345743604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=7447345578345743604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/7447345578345743604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/7447345578345743604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2008/10/menulis-artikel-dan-karya-ilmiah.html' title='MENULIS ARTIKEL DAN KARYA ILMIAH'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-6235533246795270159</id><published>2008-10-05T07:00:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T07:52:19.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Ringan'/><title type='text'>Karya Tulis Ilmiah: Ciri dan Sikap Ilmiah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa ciri karya tulis ilmiah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kaya tulis ilmiah berbeda dengan karya tulis jurnalistik. Karya tulis ilmiah juga berbeda dengan karya tulis prosa fiksi. Perbedaan itu terlihat pada hal-hal berkut.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apabila karya tulis jurnalistik mendeskripsikan objek atau menceritakan peristiwa sebagai tujuan utama penulisan, karya tulis ilmiah mendeskripsikan objek atau menceritakan peristiwa sebagai bukti yang mendasari penyimpulan sebuah teori. Oleh karena itu, tugas jurnalis adalah “memfoto” fenomena apa adanya, tanpa diikuti komentar atau analisis teori. Sebaliknya, tugas ilmuwan atau akademisi adalah menganalisis fenomena berdasarkan teori tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila karya tulis prosa fiksi menonjolkan ekspresi emosi atau perasaan, karya tulis ilmiah menonjolkan ekspresi akal pikiran. Oleh karena itu, pengarang prosa fiksi bebas mengekspresikan imajinasinya yang subjektif. Sebaliknya, penulis karya ilmiah bebas mengekspresikan analisis logis yang objektif.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Apa pun jenis karya ilmiah yang ditulis oleh ilmuwan atau akademisi – sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya – harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Objektif. Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga, setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek kebenaran dan keabsahanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Netral. Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat ‘mengajak’, ‘membujuk’, atau ‘mempengaruhi’ pembaca dihindarkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistematis. Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Logis. Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan). Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.   &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apa itu sikap ilmiah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah.  Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah, misalnya dalam diskusi, seminar, loka karya, dan penulisan karya ilmiah&lt;br /&gt;Sikap-sikap ilmiah yang dimaksud adalah sebagai berikut.&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sikap ingin tahu. Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. Mengapa demikian? Bagaimana caranya? Apa saja unsur-unsurnya? Dan seterusnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikap kritis. Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikap terbuka. Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikap objektif. Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikap rela menghargai karya orang lain. Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikap berani mempertahankan kebenaran. Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sikap menjangkau ke depan. Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Sikap ilmiah ini juga harus ada pada diri Anda ketika menyusun buku ilmiah. Kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan sikap ilmiah harus Anda buang jauh-jauh, misalnya sikap menonjolkan diri dan tidak menghargai pendapat orang lain, sikap ragu dan mudah putus asa, sikap skeptis dan tak acuh terhadap masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                           Oleh: Masnur Muslich&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-6235533246795270159?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/6235533246795270159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=6235533246795270159' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/6235533246795270159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/6235533246795270159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2008/10/karya-tulis-ilmiah-ciri-dan-sikap.html' title='Karya Tulis Ilmiah: Ciri dan Sikap Ilmiah'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-920472334523393690.post-5148391210257584219</id><published>2008-10-05T06:47:00.000-07:00</published><updated>2008-10-05T06:59:28.203-07:00</updated><title type='text'>Rencana Perkuliahan Semester (RPS) Menulis Buku ILmih</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER (RPS)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Matakuliah        : Menulis Buku ilmiah&lt;br /&gt;Sandi MK          : INB420 &lt;br /&gt;SKS / JS           : 3 / 4   &lt;br /&gt;Pembina           : Drs. Masnur Muslich, M.Si.     &lt;br /&gt;Sandi Dosen    : 802124&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DESKRIPSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Matakuliah ini berusaha menumbuhkan keterampilan menulis buku ilmiah dalam bahasa Indonesia lewat topik konsep dasar buku ilmiah, ragam dan gaya buku ilmiah, strategi penulisan buku ilmiah, perencanaan, pengumpulan bahan, penu-lisan, dan penyuntingan buku ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa memiliki pengetahuan dan  pemaham-an yang memadai tentang konsep-konsep dasar buku ilmiah, ragam dan gaya buku ilmiah, strategi penulisan buku ilmiah; penguasaan dan keterampilan ten-tang perencanaan, pengumpulan bahan, penulisan, dan penyuntingan buku ilmi-ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TOPIK DAN SUBTOPIK&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;1.      Konsep dasar buku ilmiah: pengertian buku ilmiah, ciri-ciri buku ilmi-ah, perbedaan buku ilmiah dan buku non-ilmiah.&lt;br /&gt;2.      Ragam dan gaya buku ilmiah: pengertian ragam dan gaya buku ilmi-ah (ragam buku ilmiah dilihat dari bentuk, gaya buku ilmiah dilihat dari penyajiian).&lt;br /&gt;3.      Strategi penulisan buku ilmiah: pengertian strategi penulisan buku ilmiah, langkah umum penulisan buku ilmiah, pengamatan strategi pe-nulisan buku ilmiah.&lt;br /&gt;4.      Perencanaan penulisan buku ilmiah: penentuan topik, perumusan tu-juan penulisan, pengembangan topik menjadi sub-sub topik, pengem-bangan kerangka karangan.&lt;br /&gt;5.      Pengumpulan bahan: pencarian dan pengambilan sumber bahan teo-retis, pencarian dan pengambilan data lapangan.&lt;br /&gt;6.      Penulisan: penjabaran topik dan subtopik menjadi rangkaian kalimat dan paragraf, konvensi penulisan buku ilmiah: penulisan ejaan dan kata /istilah, penulisan kutipan dan rujukan, penulisan daftar pustaka, pe-nataan format halaman sampul dan halamn isi, penulisan kata peng-antar dan daftar isi, kelengkapan teknis lain (ukuran kertas, jenis dan ukuran huruf)&lt;br /&gt;7.      Penyuntingan: tujuan penyuntingan, aspek-aspek yang perlu diper-hatikan dalam penyuntingan, teknik penyuntingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;EVALUASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nilai akhir (NA) mahasiswa ditetapkan berdasarkan:&lt;br /&gt;(a)   kuantitas dan kualitas partisipasi dalam perkuliahan (bobot 2)&lt;br /&gt;(b)   hasil tugas harian individu (bobot 2)&lt;br /&gt;(c)   hasil tugas harian kelompok (bobot 2)&lt;br /&gt;(d)   hasil tugas akhir individu (bobot 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA ditetapkan berdasarkan rumus:&lt;br /&gt;      NA = (a X 2) + (b X 2) + (c X 2) + (d X 4) : 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SUMBER/RUJUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Arifin, E. Zaenal, Drs. 1987. Petunjuk Praktis Penyusunan Karya Tulis. Jakarta: PT Media Sarana Press.&lt;br /&gt;IKIP Malang. 1995. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Artikel, dan Maka-lah. Malang: IKIP Malang.&lt;br /&gt;Keraf, Gorys. 1982. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia.&lt;br /&gt;Nasution, S, Prof, Dr. dan Thomas, M, Prof., Dr. 1977. Buku Petunjuk Membuat Disertasi, Thesis, Skripsi, Report, Paper. Bandung: Jemmars.&lt;br /&gt;Natawidjaja, P. Suparman. 1986.  Teras Komposisi. Jakarta: PT Intermasa.&lt;br /&gt;Pambudi, Hassan. 1985. Cara Menulis Buku Nonfiksi dan Petunjuk bagi Penga-rang. Jakarta: Bina Cipta.&lt;br /&gt;Ramlan, M. 1993. Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indo-nesia. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;br /&gt;Rofi’uddin, Ahmad, Dr., dkk. 1996. Panduan Penulisan Makalah. Malang: YA3 Malang.&lt;br /&gt;Soeseno, Slamet. 1986. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. Jakarta: PT Gramedia.&lt;br /&gt;Sudjana, Nana. Dr. 1988. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah: Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Sinar Baru.&lt;br /&gt;Widyamartaya, A. 1990. Seni Menggayakan Kalimat. Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JADWAL PERTEMUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu I – II&lt;br /&gt;Konsep dasar buku ilmiah: pengertian buku ilmi-ah, ciri-ciri buku ilmiah, perbedaan buku ilmiah dan buku non-ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu III&lt;br /&gt;Ragam dan gaya buku ilmiah: pengertian ragam dan gaya buku ilmiah, ragam buku ilmiah dilihat dari bentuk, gaya buku ilmiah dilihat dari penyajiian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu IV&lt;br /&gt;Strategi penulisan buku ilmiah: pengertian strategi penulisan buku ilmiah, langkah umum penulisan buku ilmiah, pengamatan strategi penulisan buku ilmiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu V&lt;br /&gt;Perencanaan penulisan buku ilmiah: penentuan topik, perumusan tujuan penulisan, pengembangan topik menjadi sub-sub topik, pengembangan kerang-ka karangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu VI&lt;br /&gt;Pengumpulan bahan: pencarian dan pengambilan sumber bahan teoretis, pencarian dan pengambilan data lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu VII – XV&lt;br /&gt;Penulisan: penjabaran topik dan subtopik menjadi rangkaian kalimat dan pargraf, konvensi penulisan buku ilmiah: penulisan ejaan dan kata/istilah, penu-lisan kutipan dan rujukan, penulisan daftar pustaka, penataan format halaman sampul dan halamn isi, penulisan kata pengantar dan daftar isi, kelengkaoan teknis lain (ukuran kertas, jenis dan ukuran huruf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu XVI&lt;br /&gt;Penyuntingan: tujuan penyuntingan, aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam penyuntingan, teknik penyuntingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Malang, Agustus 2008&lt;br /&gt;Pembina MK,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Drs. Masnur Muslich, M.Si.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/920472334523393690-5148391210257584219?l=menulisbukuilmiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/feeds/5148391210257584219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=920472334523393690&amp;postID=5148391210257584219' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/5148391210257584219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/920472334523393690/posts/default/5148391210257584219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menulisbukuilmiah.blogspot.com/2008/10/rencana-perkuliahan-semester-rps.html' title='Rencana Perkuliahan Semester (RPS) Menulis Buku ILmih'/><author><name>Masnur Muslich</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17033423385969186093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_OHQ4TnDhE8A/SsQVv_CxzHI/AAAAAAAAAeI/ar2RnHqp3DE/S220/DSC00304.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
